Sabtu, 29 Januari 2011

LOGO KOTA PAGARALAM

ARTI DAN MAKNA LOGO KOTA PAGAR ALAM
1.
a. Padi berjumlah 17 (tujuh belas) butir melambangkan tanggal 17 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia;
b. Bambu runcing 2 (dua) buah, setiap bambu terdiri dari 4 ruas, sehingga berjumlah 4 ruas, melambangkan bulan 8 (bulan delapan), bulan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia;
c. 5 (lima) tandan kopi, setiap tandan terdiri dari 9 (sembilan) buah biji, sehingga berjumlah 45 (empat puluh lima) buah biji, melambangkan tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
2.
a. Bambu runcing melambangkan Kota Pagar Alam;
b. Pita warna merah putih pengikat bambu runcing melambangkan eratnya ikatan persatuan dan kesatuan rakyat dalam melawan penjajah.
3.
a. Pita bertuliskan "BESEMAH KOTA PERJUANGAN" terdiri dari 21 (dua puluh satu) huruf melambangkan tanggal berdirinya Kota Pagar Alam sekaligus motto yang mengandung pengertian bahwa perjuangan masyarakat besemah belum selesai dan akan terus berlanjut;
b. Bangunan gedung berjumlah 6 (enam) buah, melambangkan bulan 6 (bulan juni) bulan berdirinya Kota Pagar Alam;
c. Rumah adat besemah berwarna hitam berjumlah 2001, melambangkan tahun berdirinya Kota Pagar Alam, penulisan Kota Pagar Alam terdiri dari dua suku kata;
d. Tulisan Pagar Alam pada atap rumah adat besemah berwarna putih.
4.
a. Gunung Dempo merupakan ciri khas geografi Daerah Kota Pagar Alam;
b. Bangunan gedung di lembah Gunung Dempo melambangkan Kota;
c. Latar belakang Gunung Dempo berwarna biru muda, melambangkan daerah perkebunan/pertanian dimana mayoritas masyarakatnya petani.
5.
a. Petak warna putih, melambangkan cita-cita luhur dan kesucian;
b. Petak warna hijau daun, melambangkan kesuburan tanah.

Arca Manusia Dililit Ular

Salah satu kekayaan Pagar Alam

Selasa, 25 Januari 2011

"Sriwijaya, sepenggal sejarah nan hilang"

 Sriwijaya, Sepenggal Sejarah yang Hilang



''Sebuah kerajaan bisa saja tenggelam, namun suatu saat akan muncul lagi. Sriwijaya sejak Indonesia merdeka belum menjadi pokok pembicaraan, mungkin dari Pagar Alam ini akan dimulai.''

Ungkapan yang disampaikan Gubernur Provinsi Bengkulu, Agusrin M. Najamudin, itu mungkin ada benarnya. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia memang tak terlepas dari keberadaan kerajaan Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan tertua Melayu kuno, dan memiliki pengaruh besar sampai ke wilayah Asia Tenggara mengingat kerajaan ini termasuk kerajaan maritim.

Sejarawan, Djohan Hanafiah dalam sebuah makalahnya yang disajikan dalam seminar bertajuk peradaban Besemah Sebagai Pendahulu Kerajaan Sriwijaya di kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Sabtu (28/1), mengungkapkan sejak sejarawan Prancis, George Coedes tahun 1918 menyatakan Sriwijaya beribukota di Palembang silang pendapatpun terjadi.

Puluhan pakar sejarah dan praktisi berbagai disiplin ilmu telah mengungkapkan beragam pendapat dalam berbagai seminar, lokakarya, diskusi dan forum ilmiah lainnya yang tak menemui titik temu selama lebih dari 70 tahun terkait ibu kota kerajaan tersebut.

Masa kekuasaan Sriwijaya menurut Muslihun, seorang sejarawan Bengkulu, dimulai abad ke-6 sampai ke-7 masehi. Pusat kekuasaan terletak di Bukit Barisan bagian barat, masuk Kabupaten Kaur, propinsi Bengkulu. Kerajaan ini didukung sekitar 40 kerajaan wilayah yang otonom, tersebar di bekas kerajaan Srijaya dan Sribuana di pantai parat provinsi Bengkulu Selatan.

Hampir dua abad kerajaan ini berpusat di kaki Bukit Barisan bagian barat. Namun, setelah Dapunta Hyang Sri Jayanasa berkuasa, ia memerintahkan untuk menutup kerajaan dan memindahkan pusat pemerintahan ke Palembang. Kerajaan wilayah (raja kecil) pindah menyebar dari Riau sampai Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Raja wilayah yang dipindahkan ke Jawa Tengah diminta secepatnya membangun candi guna mengalihkan perhatian, penutupan kerajaan di bukit barisan yang bertujuan untuk memajukan jagad ini.

Proses penutupan kerajaan Sriwijaya yang berpusat di bukit barisan dan penyebaran raja-raja wilayah (raja kecil) dapat diketahui dengan mempelajari sejumlah prasasti yang dikeluarkan kerajaan pusat dan raja wilayah setelah mereka berada di wilayah yang baru.

Seperti prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di daerah Kedukan Bukit, ditepi sungai Tatang dekat Palembang dengan angka 604 Saka atau 682 Masehi berhuruf palawa. Prasasti ini berisi kepindahan raja Sriwijaya dari istana di Bukit Barisan bagian barat (sekarang daerah Bengkulu) ke Palembang.

Suku Besemah

Lalu, apa kaitan antara kota Pagar Alam dengan Sriwijaya ? Perjalanan darat sekitar enam jam yang melelahkan dari kota Palembang ke Pagar Alam berupaya mengungkap keterkaitan antara kedua kota yang berjarak 298 kilometer itu.

Kota Pagar Alam yang diapit gunung Dempo dan pegunungan Bukit barisan, dikenal sebagai wilayah Besemah. Istilah Besemah atau Pasemah adalah julukan bagi sekelompok orang yang menghuni wilayah tersebut. Merekapun menyebar sampai wilayah Bengkulu, Jambi dan Lampung yang dahulu masih bagian dari propinsi Sumatera Selatan.

Sampai sekarang masih belum jelas dari mana sebenarnya asal-usul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarang berlaku juga bagi suku Besemah, masih diliputi kabut misteri.

Mitos Poyang Atong Bungsu, menyebutkan mereka bermukim bersama rombongan keluarga. Atong Bungsu menemukan ikan Semah di perairan dataran tinggi antara bukit barisan dengan gunung Dempo hingga wilayah ini disebut Besemah. Dalam perkembangannya disebut sebagai tanah Besemah, ranah Besemah atau jagat Besemah.

Hidayat Harun, seorang sejarawan menyebutkan suku bangsa Besemah atau Pasemah memiliki peninggalan tradisi megalitik yang jumlahnya mencapai ratusan buah. Di dataran tinggi Pasemah terdapat banyak arca atau patung yang menggambarkan manusia masa kini.

Batu megalit Hindu-Budha juga ditemukan di tanah Pesemah oleh sejumlah ahli arkeologi tahun 1932. Arca-arca tersebut ditemukan di dusun Tegur Wangi dan dusun lain di Pasemah yang menjadi peninggalan zaman megalit.

Masyarakat Basemah juga menyimpan sejumlah benda bersejarah milik kerajaan Sriwijaya yang berbentuk emas, kain songket, senjata jaman Hindu dan sejumlah alat kesenian di abad ke-17. Bertepatan dengan pemerintahan Sultan Badarudin II yang berkuasa di Palembang sebelum dijajah Inggris maupun Belanda.

''Keberadaan Besemah sejajar dengan Sriwijaya. Kalau bicara Kesultanan, tidak ada Besemah. Yang menjadikan sultan Palembang adalah sultan Banten dan Cirebon,'' kata Harun.

Namun menurut Noerhadi Magetsari, arkeolog dari Universitas Indonesia, Basemah memiliki peninggalan tradisi megalit, sedangkan Sriwijaya beragama Hindu/Budha. Kalau ingin dikatakan keduanya berkesinambungan dibutuhkan bukti seperti adanya peninggalan Hindu/Budha.

Secara arkeologi sebelum ajaran Hindu/Budha datang, sudah ada kebudayaan yang berkembang. Budaya baru yang datang sifatnya hanya menyesuaikan. ''Kalau dikatakan Sriwijaya adalah kelanjutan dari Besemah belum ada buktinya. Tapi kalau disitu ada sebuah peradaban memang benar,'' kata Noerhadi.

Namun, Noerhadi menambahkan tidak tertutup kemungkinan lain. Munculnya kerajaan Sriwijaya di Palembang bersamaan dengan berkembangnya Basemah sehingga keduanya hidup sejajar. ''Tapi sampai kini belum ada bukti ditemukannya peninggalan megalit di Sriwijaya. Jadi belum bisa dikatakan keduanya nyambung,'' katanya. N hir

Kesultanan Siap Bantu

Pihak keraton kesultanan Palembang akan menyiapkan bantuan berupa dana dan fasilitas lain yang dibutuhkan bagi pengungkapan misteri sejarah Besemah dan kerajaan Sriwijaya tersebut.

Ada tidaknya hubungan antara Besemah dan Palembang, akan diteliti kembali oleh Universitas Indonesia, guna menguatkan apa yang telah disampaikan di simposium tersebut.

''Kami akan bantu karena Palembang memiliki peninggalan bersejarah seperti batu bertulis, peninggalan Melayu kuno, Sriwijaya ekspansi ke Asia Tengara. Selama ini penelitian belum mampu mengungkap misteri lantaran keterbatasan dana dan kemampuan arkeolog untuk melakukan penelitian ,'' kata Sultan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.

Di Palembang terdapat museum Sriwijaya dan Balaputradewa. Selain itu ada museum kesultanan yang bersebelahan dengan benteng Kuto Besak yang menjadi pusat pemerintahan kesultanan Palembang abad ke-18. Benteng Kuto Besak atau keraton baru dibangun menghadapi sungai Musi. Benteng itu kini menjadi markas Kodam Sriwijaya

Hal serupa juga disampaikan walikota Pagar Alam, Djazuli Kuris yang akan menyiapkan dana khusus dari APBD setempat. Namun, pihaknya masih akan meminta persetujuan DPRD mengingat jumlah yang dibutuhkan tidaklah kecil. ''kami akan siapkan berapapun yang dibutuhkan, sesuai kemampuan. Kita serahkan ke ahlinya,''kata Kuris.

Seminar tersebut merupakan awal dari upaya panjang yang perlu dilakukan dalam mengungkap peninggalan sejarah megalitik peradaban Besemah termasuk kaitannya dengan kerajaan Sriwijaya. Tentunya upaya tersebut membutuhkan waktu, tenaga dan keseriusan dari semua pihak. ''Pengkajian Besamah merupakan upaya positif terhadap cinta pada budaya dan tanah air,'' katanya. - hir/ahi
www.republika.co.id

Selayang Pandang Sejarah Besemah

Ilustrasi menarik mengenai tempat orang-orang Pasemah pernah dituliskan oleh JSG Grambreg, seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda yang ditulisnya tahun 1865 sebagai berikut:
"Barang siapa yang mendaki Bukit Barisan dari arah Bengkulu. kemudian menjejakkan kaki di tanah kerajaan Palembang yang begitu luas; dan barang siapa yang melangkahkan kakinya dari arah utara Ampat Lawang (negeri empat gerbang) menuju ke dataran Lintang yang indah, sehingga ia mencapai kaki sebelah Barat Gunung Dempo, maka sudah pastilah ia di negeri orang Pasemah. Jika ia berjalan mengelilingi kaki gunung berapi itu, maka akan tibalah ia di sisi timur dataran tinggi yang luas yang menikung agak ke arah Tenggara, dan jika dari situ ia berjalan terus lebih ke arah Timur lagi hingga dataran tinggi itu berakhir pada sederetan pengunungan tempat, dari sisi itu, terbentuk perbatasan alami antara negeri Pasemah yang merdeka dan wilayah kekuasaan Hindia Belanda."

Dari kutipan itu tampak bahwa saat itu wilayah Pasemah masih belum masuk dalam jajahan Hindia Belanda. Operasi-operasi militer Belanda untuk menaklukkan Pasemah sendiri berlangsung lama, dari 1821 sampai 1867. Johan Hanafiah budayawan Sumatra Selatan, dalam sekapur sirih buku Sumatra Selatan Melawan Penjajah Abad 19 tersebut menyebutkan bahwa perlawanan orang Pasemah dan sekitarnya ini adalah perlawanan terpanjang dalam sejarah perjuangan di Sumatera Selatan abad 19, berlangsung hampir 50 tahun lamanya.Johan Hanafiah juga menyatakan bahwa pada awalnya orang-orang luas, khususnya orang Eropa, tidak mengenali siapa sebenarnya orang-orang Pasemah. Orang Inggris, seperti Thomas Stamford Rafless yang pahlawan perang Inggris melawan Belanda di Jawa (1811) dan terakhir mendapat kedudukan di Bengkulu dengan pangkat besar (1817-1824) menyebutnya dengan Passumah. Namun kesan yang dimunculkan adalah bahwa orang-orang Passumah ini adalah orang- orang yang liar. Dalam The British History in West Sumatra yang ditulis oleh John Bastin, disebutkan bahwa bandit-bandit yang tidak tahu hukum (lawless) dan gagah berani dari tanah Passumah pernah menyerang distrik Manna tahun 1797.

Disebutkan pula bahwa pada tahun 1818, Inggris mengalami dua malapetaka di daerah- daerah Selatan yakni perang dengan orang-orang Passumah dan kematian-kematian karena penyakit cacar.Pemakaian nama Passumah sebagaimana digunakan oleh orang Inggris tersebut rupanya sudah pernah pula muncul pada laporan orang Portugis jauh sebelumnya. Disebutkan dalam satu situs internet bahwa Portugis pernah mendarat di Pacem atau Passumah (Puuek, Pulau Sumatra) pada bulan Mei 1524. Namun, dari korespondensi pribadi dengan Marco Ramerini dan Barbara Watson Andaya, diperoleh konfirmasi bahwa yang dimaksudkan dalam laporan Portugis itu adalah Aceh, bukan Pasemah seperti yang dikenal ada di Sumatra Selatan sekarang. Hal ini juga terindikasi dari lokasi Pacem itu sendiri yang dituliskan berada pada 05_09’ Lintang Utara - 97_14’ Bujur Timur). Gunung Dempo sendiri yang disebut -sebut oleh Gramberg di atas berada pada posisi 04_02’ Lintang Selatan - 103_008’ Bujur Timur.

Nama Pasemah yang kini dikenal sebetulnya adalah lebih karena kesalahan pengucapan orang Belanda, demikian menurut Mohammad Saman seorang budayawan dan sesepuh di sana. Adapun pengucapan yang benar adalah Besemah sebagaimana masih digunakan oleh penduduk yang bermukim di sana. Namun yang kini lebih dikenal adalah nama Pasemah. Konon, munculnya nama Besemah adalah karena keterkejutan puyang Atong Bungsu manakala melihat banyak ikan “Semah” di sebuah sungai yang mengalir di lembah Dempo. Yang terucap oleh puyang tersebut kemudian adalah “Be-semah” yang berarti ada banyak ikan semah di sungai tersebut. Hal ini juga tertulis dalam sebuah manuskrip kuno beraksara Latin berjudul Sejarah Pasemah yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta. Dalam manuskrip ini dikisahkan bahwa Atong Bungsu ke Palembangan, Muara Lematang. Dia masuk dan memeriksa rimba yang kemudian dinamainya Paduraksa yang berarti “baru diperiksa”. Istrinya, yakni Putri Senantan Buway, setelah mencuci beras di sungai, pulang ke darat dengan membawa ikan semah. Maka tanah tersebut kemudian dinamakan oleh Atong Bungsu sebagai Tana Pasemah. Atong Bungsu itulah yang dipercaya sebagai nenek moyang suku Pasemah.

Menurut manuskrip di atas, puyang Pasemah ini adalah keturunan dari Majapahit. Ia adalah salah seorang anak dari delapan anak dari seorang raja di Majapahit yang berjulukan Ratu Sinuhun. Gramberg sendiri juga menuliskan demikian. Orang Pasemah sikapnya kaku dan teguh bila berdiri untuk menegaskan bahwa kakek moyangnya berasal dari Jawa, dan lebih dari itu, bahwa ia pun berasal dari Majapahit, ia pun kemudian bercerita mengenai dongeng (mitologi) yang hidup di kalangannya. Menarik untuk ditambahkan bahwa Gramberg juga melukiskan adanya perbedaan yang sangat mencolok antara orang Pasemah dengan orang Melayu dataran tinggi yang tinggal disekitarnya. Menurutnya, orang Pasemah pertama-tama adalah petani yang membangun sawah, memasang saluran air dan menggunakan hewan penarik beban. Sehingga, dalam hal bertani kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada orang Melayu di sekitarnya yang hanya mengenal peladangan. Selain itu, dari raut muka terlihat kecerdasannya yang lebih, bangun tubuhnya lebih terkembang, dengan sepak terjang yang lebih enerjik. Kemudian, dengan agama yang menyembah berhala serta dari segi akar kosa kata yang digunakan, Gramberg lebih yakin dengan teori bahwa orang Pasemah adalah masuk ras orang Jawa kuno.Mengenai persawahan, manuskrip kuno

Sejarah Pasemah juga diungkapkan kisah Puyang Keriya Sidi yang mengajak orang untuk membuat sawah, sehingga orang Pasemah saat itu membuat sawah tidak berkesudahan. Hal ini kembali menyiratkan bahwa orang Pasemah masa dahulu sudah cukup dalam dalam mengolah lahan pertanian, bahkan persawahan.Mengenai puyang Atung Bungsu, agak berbeda dengan cerita di atas, Rahman Effendi Martabaya (2004) menyebutkan bahwa Atung Bungsu sebetulnya adalah Putra Mahkota Kerajaan Rao di India, dengan nama lengkap Y.M. Sri Mapuli Atung Bungsu. Menurutnya, Atung Bungsu memimpin angkatan laut kedua dari Kerajaan Rao yang dikirim pada tahun 101 Saka/179 Masehi setelah angkatan pertama yang dikirim sebelumnya ke Sumatra tidak ada kabarnya. Dalam tulisan Martabaya tersebut ditemukan adanya air sungai/Ayik Besemah yang dari dataran tinggi Bukitraja Mehendra (Bukit Raje Bendare) yang mengalir ke Barat dan bermuara di Sungai Lematang wilayah Kota Pagar Alam. Bukit Raje Bendare ini sampai saat ini masih ada, terletak di Kecamatan Tanjung Sakti.Pada saat ini, Pasemah dikenal sebagai nama sebuah suku di suatu dataran tinggi di seputar Gunung Dempo (3159 m) dan Bukit Barisan (400-900 m), Sumatera Selatan. Di sekitarnya terdapat suku-suku lain seperti Semendo (disebut- sebut berakar dari silsilah yang sama), Lintang, Gumay, Empat Lawang. Namun demikian terkadang, Pasemah langsung dihubungkan dengan Kabupaten Lahat. Artinya, Pasemah dianggap juga mencakup suku- suku di sekitarnya, seperti Lintang). Pasemah sendiri, dalam beberapa sumber dipilah menjadi beberapa bagian, yakni Pasemah Lebar, Pasemah Ulu Manna (di sebelah Selatan), Pasemah Ulu Lintang (sebelah Barat Laut), Pasemah Air Keruh (berada jauh di balik Bukit Barisan. Tiga terakhir ini penduduknya berasal dari Pasemah Lebar yang beremigrasi dan beradaptasi dengan daerah di sekitarnya yaitu bekas daerah Kesultanan Palembang dan daerah jajahan Inggris di Bengkulu. Pasemah Ulu Manna sendiri, pada masa penjajahan Belanda masuk Karesidenan Bengkulu. Kecamatan Tanjung baru menjadi bagian dari Sumatera Selatan sejak tahun 1948, setelah dilakukan pemungutan suara dengan cara yang sederhana untuk menentukan hendak menjadi bagian dari Sumatera Selatan ataukah Bengkulu. Namun, daerah yang agaknya paling pas untuk menunjuk keberadaan suku Pasemah adalah perbatasan Sumatera Selatan dan Bengkulu.Terlepas dari hal itu, Pasemah sendiri mempunyai tempat khusus dalam studi-studi arkeologi sehubungan dengan peninggalan-peninggalan pra-sejarahnya. Seperti disebutkan oleh Peter Bellwood seorang arkeolog dari Australian National University (ANU), Dataran Tinggi Pasemah merupakan salah satu pusat temuan bangunan-bangunan prasejarah yang penting di Indonesia. Bangunan megalitik Pasemah yang ada disebutkan sangat menarik dan telah menarik perhatian, sejak tahun 1950. Berbagai bentuk pahatan batu dikenal sebagai The Art of  Pasemah. Berkaitan dengan tugu batu yang ada di Pasemah, antropolog Belanda Heine-Geldern pernah memperkirakan bahwa hal ini merupakan petunjuk telah adanya hubungan erat dengan Cina sekitar abad 1-2 SM, karena kemiripannya dengan peninggalan serupa di satu wilayah di Cina. Sebagian uraian Victor Purcell (1965) yang dikutip Lewis adalah sebagai berikut:

Dr. Heine-Geldern di tahun 1934 menjelaskan stylistic similarities antara pahatan batu prasejarah yang ada di daerah Pasemah di Sumatra bagian Selatan dengan yang ada di makam Jenderal Cina Huo K'iu-ping di Propinsi Shensi China, yang dibuat tahun 117 SM. Ini, katanya, tampaknya mengindikasikan setidaknya ada hubungan erat dengan Cina, yang mungkin telah mulai ada sekitar abad pertama dan kedua SM.

Bellwood dalam bukunya meragukan kesimpulan bahwa hubungan dengan Cina sudah terjadi pada abad-abad itu. Menurutnya, kontak dagang Indonsia dengan Cina mungkin amat jarang terjadi sebelum Dinasti Tang (618-906 M).

Sementara Kamil Mahruf memperkirakan suku Pasemah telah ada sekitar awal tahun 700-an. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa Prasasti Palas Pasemah yang ada di Lampung dan bertahun 680 M itu ada hubungannya dengan Tanah Pasemah.

Keterangan:
Tulisan di atas merupakan bagian dari artikel utuh hasil penelitian Aloysius Gunadi Brata (Lembaga Penelitian Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Oktober – 2005) yang berjudul “Problematika Masyarakat Kopi Pasemah”.
Kalu nak dapet artikel lengkapnyo dalam format PDF (172 kb), silahkan search kemudian download di google dengan kata kunci judul tersebut, atau hubungi bae aku via email: lempoxe@yahoo.com

copy from...http://forum.sumsel.com/showthread.php?t=868

"Sejarah Sriwijaya menurut A. Grozali"

Ahmad Bastari Suan, SPd Peminat Sejarah dan Budaya Nusantara

AHMAD GROZALI Mengkerin, penulis angkatan Balai Pustaka, dengan karya tulisnya yang terkenal Syair Si Pahit Lidah, mempunyai pendapat lain tentang sejarah Sriwijaya. Pendapatnya itu tertuang dalam satu manuskrip yang disimpan oleh keluarga orang yang disapanya dengan sapaan “paman” di Palembang.

Dokumentasi pribadi paman Abdullah Senibar itu patut dijadikan bahan kajian tentang sejarah Sriwijaya atau sejarah lokal Sumsel. Judul manuskrip yang ditulis oleh penulis Balai Pustaka itu adalah “Ringkasan Sedjarah Seriwidjaja Pasemah”.Ahmad Grozali, penulis Syair Si Pahit Lidah, yang sebagai jurnalis pernah menulis artikel “Gara-gara Berdialog” itu, mengemukakan pendapatnya tentang Sriwijaya sebagai berikut.Pada tahun 101 Syaka (bertepatan dengan tahun 179 Masehi), berlabuhlah tujuh bahtera (jung) di Pulau Seguntang. Pulau Seguntang itu adalah Bukit Seguntang yang sekarang, yaitu bukit dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, di dalam Kota Palembang.Pada masa itu, yaitu sekitar abad kedua Masehi, daerah Sumatera Selatan ini masih merupakan bencah lebar atau rawa-rawa yang sangat luas. Hanya ada beberapa daratan yang tampak seperti terapung di atas permukaan laut. Di antara daratan yang muncul di atas permukaan laut itu adalah:
(1). Bukit Seguntang, sebagai apung pertama
(2). Kute Abung Bukit Serela, sebagai apung tengah
(3). Daratan Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya Gunung Dempu, sebagai apung kulon (apung barat).
Kute Abung Bukit Serela adalah Bukit Serela di Kabupaten Lahat, yang sekarang dikenal juga dengan nama Bukit Jempol. Di situ pernah ditemukan jangkar jung kuno yang berasal dari awal abad Masehi. Daerah itu dikenal juga dengan sebutan Abung Tinggi. Bukit Serela atau Bukit Jempol itu tingginya 670 meter di atas permukaan laut.Dataran Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya Gunung Dempu itu adalah wilayah Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat dengan gunung tertinggi di Sumatera Selatan, yang kini dikenal dengan Gunung Dempo. Gunung Dempu (Dempo) itu sebenarnya mempunyai tiga puncak, yaitu:
(1) puncak belumut (Gunung Lumut)
(2) puncak beghapi (Gunung Berapi)
(3) puncak dempu (Gunung Dempu)
Puncak yang tertinggi adalah puncak Dempu (Gunung Dempu), 3.173 meter di atas permukaan laut.

Putra Mahkota.
Adapun Angkatan Bahtera (Armada Jung) yang berlabuh di Pulau Seguntang pada tahun 101 Syaka atau 179 Masehi itu, dipimpin oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, putra mahkota Kerajaan Rau (Rao) di India. Sebagai penasihat Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu adalah Ariya Tabing dari Kepulauan Massava (Filipina) dan Umayullah dari Parsi Persia (Iran).Perjalanan Angkatan Bahtera Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu adalah perjalanan kedua yang dilakukan oleh Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) untuk menyelidiki pulau-pulau di Nusantara, yaitu pulau-pulau di tenggara benua Asia. Perjalanan pertama berlangsung sebelum tahun 10 Syaka atau tahun 80-an Masehi. Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) yang berangkat ke Nusantara sebelum tahun 10 Syaka itu dipimpin oleh Seri Nuruddin yang berasal dari Kepulauan Massava (Filipina), yang pada waktu itu menjabat sebagai Ariya Passatan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao).Angkatan Seri Nuruddin telah berpuluh-puluh tahun tidak kembali ke Kerajaan Rau (Rao) di India, bahkan tidak ada kabar sama sekali. Oleh sebab itu maka dikirim angkatan kedua, angkatan susulan, yang dipimpin langsung oleh yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu. Mereka mengharung samudera, menuju ke pulau-pulau Nusantara.Pada hari Jumat, hari ke-14, bulan Haji (bulan Zulhijjah), tahun 101 Syaka, bertepatan dengan tahun 179 Masehi, mendaratlah Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu yang memimpin Angkatan Tujuh Bahtera itu di daratan, di dekat pohon cendana, di Pulau Seguntang atau Bukit Seguntang. Di situ beliau Yang Mulia menemukan satu bumbung (berumbung) atau tabung yang berisi lempengan emas bersurat. Lempengan emas bersurat dalam bumbung yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu itu, ternyata adalah surat atau warkah yang ditandatangani oleh Seri Nuruddin, Ariya Passetan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao), bertanggal hari kesebelas, bulan ketujuh (bulan Rajab), tahun 10 Syaka, bertepatan dengan tahun 88 Masehi.

Surat.
Inilah isi surat atau warkah emas yang ditulis dan ditandatangani oleh Seri Nuruddin, yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di bawah pohon cendana, di Bukit Seguntang itu.“Kami tak dapat lagi pulang ke India karena segala alat perlengkapan kami telah rusak binasa. Tetapi kami telah menemukan beberapa pulau, di antaranya ada yang kami namakan Tanah Jawa karena di dalamnya (di pulau itu) banyak kami mendapat buah jawa, yang kami makan dan dijadikan bubur.Barangsiapa mendapatkan barang ini (surat ini) hendaklah menyampaikannya ke hadirat Yang Diperlukan Kerajaan Rau (Rao) di India”.Demikianlah isi surat pertama yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di Bukit Seguntang. Setelah penemuan surat pertama itu, Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu menemukan surat yang kedua. Rupanya tahun pembuatan dan orang yang membuat atau menulis surat itu berlainan. Surat yang kedua ditulis pada tahun 50 Syaka (128 Masehi). Yang menulisnya adalah Ariya Saka Sepadi, Bukan Seri Nuruddin.Surat yang ditulis oleh Ariya Saka Sepadi pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) itu dituliskan pada “kain bambu” (bilah-bilah bambu) yang isinya sebagai berikut.“Pada tahun 50 Syaka (28 Masehi), Yang Mulia Seri Nuruddin meninggal dunia di Muara Lematang dan kami makamkan dia di sana dengan upacara yang selayaknya. Ditulis oleh Ariya Saka Sepadi”.Demikianlah di antara tanda-tanda yang mereka peroleh atau temukan bersama-sama dengan beberapa benda lain peninggalan Angkatan Bahtera Seri Nuruddin yang telah rusak binasa pada tahun 10 Syaka (88 Masehi) dan perihal kematian Seri Nuruddin sendiri pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) di Muara Lematang, sebelah barat Bukit Seguntang.

Tera.
Yang Mulia Seri Mapuli Dewan Atung Bungsu yang mendarat di Bukit Seguntang pada tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu segera mendirikan pondokan bagi angkatannya (rombongannya). Di situ, Yang Mulia menitahkan kepada Ariya Tabing, Nakhoda Bahtera “Penjalang” untuk menera (menimbang) semua sungai di sekitar Pulau Seguntang.Ariya Tabing bertanya kepada Atung Bungsu, “Sungai yang mana yang mesti ditera (ditimbang) “Maka dijawab oleh Yang Dipertuan Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, “Semua tera” (artinya, semua mesti ditimbang). Dari kata-kata jawaban Atung Bungsu “Semua tera” itulah asalnya nama pulau “Sumatera”. “Semua tera”, yang kemudian menjadi “Sumatera”, artinya semua timbang; maksudnya, semua sungai yang ada di sekitar Pulau Seguntang (Bukit Seguntang) mesti ditimbang karena dalam amanat Paduka Yang Mulia Ayahnda Baginda Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, “di mana sungai yang paling berat timbangannya (paling berat kadar airnya), di situ akan berdiri kerajaan yang paling besar di dunia dan akan termasyhur sampai ke mana-mana. Demi mengikuti amanat itu, berganti-ganti air sungai ditera (=ditimbang) oleh Ariya Tabing atas titah Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu. Maka kedapatanlah sungai di Dataran Tinggi Tanah Besemah yang paling berat timbangannya. Sungai itu dinamakan “Sungai Bersama” karena didapat atau ditemukan bersama oleh Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, Ariya Tabing, dan angkatannya. Sungai itu sekarang dikenal dengan nama “Ayik Besemah” (Air Besemah) atau sungai Besemah yang mengalir dari timur Bukit Raje Mendara (Raja Mahendra), melintasi dusun Sarangdale (Karanganyar), Dusun Tebatgunung, dusun Nanding, dan bermuara di Air Lematang atau Sungai Lematang dekat dusun Mingkik dan Dusun Benuwakeling, Kota Pagaralam. Di sekitar Air Besemah bermuara ke Air Lematang itulah Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu membuat dusun-dusun dengan sebutan “Sumbay Paku Jagat Seriwijaya”, semacam “Pasak Bhumi Majapahit”, dalam kerajaan Majapahit Raya. Maka ditanamkanlah batu-tugu (menhir) sebagai peringatan, yaitu “Batu Lancang Putih”, yang dibawa dari puncak Gunung Himalaya. Batu-tugu itu berwarna putih di bagian atasnya dan berwarna merah di bagian bawahnya. Sampai sekarang Batu Lancang Putih itu masih terdapat di dekat Makam Ratu Seri Wijaya, di dekat dusun Benuwakeling, Kota Pagaralam.
(Sripo 3.03)

"Pagaralam yang Alami" - detik.com

Saya bahkan tidak menyadari
saya telah memasuki kota
Pagaralam, Sumatra Selatan.
Kota ini cukup tenang, tak
banyak kendaraan bermotor
yang berlalu lalang di jalan raya.
Saat itu nampak sisa-sisa aspal
yang basah karena air hujan
yang baru mengguyur kota. dari
jauh nampak Gunung Dempo
yang separuhnya diselimuti
awan putih, nampak sangat
elegan dan tenang. Saat
memasuki kota ini, saya
melintas jalan raya yang sangat
halus aspalnya, berbukit-bukit
dan tertata rapi, mengingatkan
saya pada kawasan perumahan
elit di kawasan Sentul, Bogor.
Mobil menepi karena saya ingin
memotret suasana jalan dengan
latar belakang gunung Dempo,
nampak indah sekali. Jalanan
yang sepi memungkinkan saya
memotret dari tengah jalan,
bahkan dengan kaki telanjang!
Mana mungkin yang seperti ini
ada di Jakarta? Aspal yang
basah karena air hujan, suasana
kota di kaki gunung yang sejuk,
dan pemandangan yang indah.
Pagaralam memang sangat
menawan. Setelah itu saya
melanjutkan perjalanan untuk
naik ke atas gunung Dempo
yang ternyata dipenuhi oleh
perkebunan teh. Tanaman teh
tertata rapi, kontur tanah yang
berbukit-bukit, lagi-lagi saya
dibuat tercengang. Saya naik
terus sampai di lokasi yang
paling tinggi. Di lokasi ini,
terdapat sebuah Patung
Harimau, yang kemudian
disebut dengan Tugu Rimau.
Tugu ini merupakan monumen
api PON yang beberapa tahun
lalu diadakan di Sumatra
Selatan.
Dari lokasi ini kita dapat melihat
pemandangan yang sangat
indah dan luas. Termasuk
kawasan pegunungan Barisan,
kota Lahat dan termasuk
perkebunan teh itu sendiri.
Datanglah pada saat matahari
terbit, walaupun suhu sangat
dingin menggigit tapi bagi anda
yang suka dengan landscape
indah dan magis, maka
kawasan ini harus anda
kunjungi.

detik.com menemukan "Keindahan Pagi di Pagaralam"

Hari masih sangat pagi, bahkan
fajar pun belum
memperlihatkan tanda-tanda
akan terbit. Udara Pagaralam
pun benar-benar dingin. Tak
banyak orang yang mau
melepaskan selimutnya pagi ini.
Tapi lain halnya dengan saya,
Titis, dan Mas Yopie yang sudah
siap-siap pakai jaket dan
menenteng kamera siap
menerobos kebun teh untuk
melihat sunrise.
Pagi ini kami ingin melihat
sunrise dari atas Gunung
Dempo. Mobil kami segera naik
ke atas gunung melewati
kebun-kebun teh yang
terhampar luas di sisi kanan
dan kiri jalan. Namun sebelum
kami sampai di atas gunung,
semburan cahaya jingga mulai
tampak di belakang Bukit
Barisan yang tampak di
seberang. Kami segera menepi
dan siap-siap menyaksikan
detik-detik kemunculan sang
mentari. Dari atas sini tampak
pemandangan Kota Pagaralam
yang masih diselimuti kabut.
Tempat yang tepat untuk
menikmati sunrise. Perlahan
sinar jingga menyeruak keluar
menghiasi langit Pagaralam
yang biru. Kami langsung
menyiapkan kamera karena
tidak mau ketinggalan momen-
momen ini sedetikpun.
Matahari sudah benar-benar
keluar, terlihat penduduk
sekitar memulai aktivitasnya.
Satu dua motor mulai menuruni
gunung. Anak-anak berseragam
sekolah mulai memenuhi mobil-
mobil kap yang akan
mengantarkan mereka ke
sekolah di kaki gunung.
Aktivitas di kebun teh pun mulai
hidup. Terlihat dari kejauhan
ibu-ibu pemetik teh mulai
memasuki kebun-kebun teh.
Kami berjalan menuju ke tempat
ibu-ibu pemetik teh melintasi
daun-daun teh yang masih
basah karena embun. Wangi
daun-daun teh selalu membuat
saya ingin bermain di kebun teh
seperti ini. Kami pun menyapa
ibu-ibu pemetik daun teh dari
dekat. Mereka sangat ramah.
Meski malu-malu, mereka selalu
senang kalau kami foto.
Sepulang dari kebun teh, kami
menyempatkan diri untuk
mampir ke pabrik pengolahan
teh Gunung Dempo yang
letaknya tidak jauh dari
kompleks kebun teh. Sayangnya,
kami tidak dapat memasuki
area pabrik karena tidak
memiliki izin. Akhirnya kami
memilih untuk ke koperasi yang
berada persis di seberang
pabrik. Koperasi ini menjual
seluruh varian produk teh
Gunung Dempo, mulai dari teh
celup, teh seduh, hingga kopi.
Saya sendiri belum pernah
mencoba teh Gunung Dempo,
jadi saya membeli beberapa
kotak teh celup dan teh seduh
sekaligus untuk oleh-oleh.
Kami pun kembali ke cottage
tempat kami menginap yang
berada di kompleks kebun teh.
Saya yang sudah tidak sabar
mencicipi rasa teh Gunung
Dempo kemudian segera masuk
dan mengambil cangkir untuk
membuat teh. Titis dan yang
lain sudah duduk di balkon
bagian belakang cottage. Di
sana lah kami menghabiskan
pagi dengan secangkir teh
Gunung Dempo dan
pemandangan kebun teh yang
menyejukkan mata. Tehnya
wangi dan aroma daun tehnya
masih sangat kental, khas teh
Indonesia. Saya memang
penggemar teh Indonesia. Salah
satu teh favorit saya adalah teh
Walini yang diambil dari dataran
tinggi Jawa Barat. Dan kali ini
saya juga menjatuhkan pilihan
pada teh Gunung Dempo. Benar
pesan teman-teman saya
sebelum saya pergi ke
Pagaralam, "Kalau sudah sampai
Pagaralam, harus coba tehnya!"

detik.com menikmati "Kesederhanaan Hidup di Kaki Gunung Dempo"

“We were stranger on the crazy
adventure. Never dreaming how
our dreams would come true.
Now here we stand unafraid of
the future. At the beginning
with you.. ” Petikan lagu
berjudul At The Beginning yang
dinyanyikan Richard Marx dan
Donna Lewis menjadi
soundtrack penyemangat pagi
saya dan rekan petualang saat
memulai lembaran hari yang
baru di Pagaralam.
Hari masih gelap ketika saya
dan Rainer Oktovianus bangun
di hari Jumat, 8 Oktober 2010,
kira-kira sekitar pukul lima pagi.
Rasanya tak ingin beranjak dari
kenyamanan tempat tidur,
namun dinginnya udara pagi
yang menusuk tulang pun tak
mampu menghalangi kami
untuk menjemput sang mentari
di ufuk timur kaki Gunung
Dempo.
Kami menjelajah beberapa
objek wisata di kawasan yang
sangat kaya dengan khazanah
alam ini. Tujuan pertama adalah
Tugu Rimau, sekitar 20 menit
perjalanan menggunakan mobil
menuju ke arah bukit. Dari atas
Tugu Rimau, anda bisa melihat
permadani raksasa hijau dan
kota Pagaralam yang masih
belum berdaya. Lampu-lampu
kota masih menyala sebagai
tanda penghuninya masih
terlelap, gugusan bintang pun
masih setia menghiasai
hamparan langit. Awalnya kami
kira pukul setengah enam itu
masih terlalu pagi, tetapi
ternyata sekitar sepuluh menit
kemudian semuanya perlahan
berubah. Sang mentari mulai
malu-malu menampakkan
wajahnya, sinar-sinar artifisial
mulai redup, dan bintang-
bintang di langit mulai
menghentikan kerlipannya dan
bersembunyi.
Kami bersantai untuk sarapan
ala kadarnya di warung dekat
plang Tugu Rimau. Nikmat
sekali bisa menyeruput teh
langsung dari sumbernya
ditemani panorama
perkebunan teh. Tidak ada yang
bisa mengalahkan sensasi
bermalas-malasan di pagi hari
sambil mendengarkan cerita
pemilik warung teh yang
merantau dari Jawa. Sempurna!
Sambil berjalan di antara
perkebunan teh, kami menarik
nafas dalam-dalam, udara sejuk
pun mulai memasuki rongga
paru-paru diiringi tarian semilir
angin segar yang ikut menyapa
lembut mengelilingi tubuh. Rasa
syukur tak henti-hentinya
terucap dari mulut, inilah
kehidupan yang didambakan
banyak orang. Bukan
disibukkan dengan hal duniawi
dan macetnya jalanan, tetapi
bisa menikmati pagi dengan
tenang, menikmati anugerah
Tuhan yang tak akan bisa
didapatkan di perkotaan.
Para wanita pemetik teh mulai
bermunculan, memulai irama
pagi dengan hati gembira.
Setelah berbincang-bincang
sedikit dan mengabadikan
kegiatan mereka, kami pun
melanjutkan perjalanan ke
objek wisata air terjun. Tak jauh
dari Tugu Rimau, anda bisa
menemukan dua air terjun yang
letaknya berdekatan. Ada Air
Terjun Chugub Embun dan
Chugub Mangkok. Jangan lupa
mampir untuk sekedar bermain
gemericik air atau ingin
menyegarkan tubuh dengan
airnya. Kawasan hijau ini juga
sangat kaya, ternyata bukan
hanya pesona alam saja yang
ditawarkan, tetapi juga ada
situs sejarah yang bisa anda
kunjungi. Namanya Situs Tegur
Wangi Lama, anda bisa
menemukan arca-arca manusia
yang berasal dari jaman
Megalithikum dan membaca
sejarah-sejarahnya.
Jarang sekali kami melihat jam,
setiap detik di kawasan
Pagaralam kami nikmati dengan
tenang. Kalau sudah puas,
barulah kami beranjak pergi.
Akhir hari ini pun kami tutup
dengan mengunjungi Sumber
Air Panas Tanjung Sakti. Ingin
merasakan aliran air sungai
yang sangat dingin namun
kadang diselingi aliran yang
panas mendidih? Jangan lupa
mampir ke kecamatan
Mendingan di Lahat. Seorang
warga yang baik hati akan
menyapa anda dan
menawarkan secangkir kopi
sebagai teman sore. Sejenak
sebelum pulang, kami
meyeruputnya sambil melihat
panorama bentangan sawah
hijau yang menjadi mata
pencaharian mereka sehari-
hari.
Sungguh, hidup di daerah
pedesaan yang masih alami
membuat saya dan rekan lebih
menikmati dan menghargai
kehidupan yang begitu
sederhana. Pagaralam, kau telah
mencuri hati kami para
petualang! [@lucianancy]

detik.com menyapa "Alam Raya Bersahaja di Pagaralam"

Sudah puas mencicipi pempek
khas Palembang? Saatnya anda
menikmati pesona alam yang
ditawarkan bumi selatan
Sumatera!
Setelah berwisata sungai,
berwisata sejarah, dan
berwisata budaya di pusat kota
Palembang, saya dan Rainer
Oktovianus berangkat menuju
alam raya Sumatera Selatan.
Cuaca panas sekali pada hari
Rabu, 7 Oktober 2010, tetapi
semuanya terbayar sudah
ketika kami sampai di
Pagaralam ketika senja mulai
menampakkan warnanya.
Deretan pepohonan dan
tanaman memenuhi kanan kiri
jalan, hijau menyeruak di
sepanjang sisinya. Perlahan,
udara segar menyergap masuk
ketika kami membuka kaca
jendela mobil. Rasanya sungguh
menyejukkan ketika menghirup
oksigen segar dari daerah
berbukit ini. Mata kami pun
dimanjakan dengan hamparan
langit yang dihiasi awan putih,
tak lupa ditambah panorama
Gunung Dempo, Pegunungan
Bukit Barisan, perkebunan teh,
dan juga rumah-rumah
penduduk yang masih terbuat
dari kayu (Rumah Limas). Siapa
yang tak betah tinggal di kaki
gunung tertinggi Sumatera
Selatan ini? Kebanyakan
perantauan dari Pulau Jawa
yang menetap di daerah ini pun
ternyata memang mencari
kehidupan yang tenang dan
bersahaja.
Pagaralam dapat ditempuh
sekitar tujuh jam perjalanan
dari pusat kota Palembang
dengan menggunakan
kendaraan bermotor, letaknya
di sebelah barat Kabupaten
Lahat. Jika anda termasuk orang
yang mabuk darat, minumlah
obat anti mabuk karena
jalannya cukup berkelok-kelok.
Sebagai bayangan, daerah ini
mirip dengan kawasan Puncak
(Jawa Barat) namun dengan
kondisi yang jauh lebih alami,
tidak ada pertokoan atau
rumah makan di sepanjang
kanan kiri jalan.
Ada 3 alternatif vila yang bisa
anda tempati jika ingin
menginap selama beberapa hari
di Pagaralam. Ada Vila Gunung
Dempo, Vila Gunung Gare, dan
Vila Besemah. Saya dan rekan
akhirnya memilih vila terakhir
karena selain kedua vila
pertama sudah penuh, harga
penginapan di Vila Besemah
juga ternyata sangat
bersahabat dengan kantong, Rp
100.000,-/kamar per-malam.
Satu rumah terdiri dari dua
kamar dan masing-masing
kamar memiliki dua tempat
tidur. Namun, jika anda pergi
berombongan sekitar lima
sampai sepuluh orang,
hendaknya memilih sebuah
rumah yang agak lebih besar
dengan harga Rp 500.000,-
malam, cukup hemat kan?
Vila yang kami tempati
berkonsep rumah panggung
beratap dan beralaskan kayu,
sirkulasi udaranya tak usah
diragukan. Di belakang rumah,
hamparan perkebunan teh dan
beberapa pohon yang menjadi
aksesoris menyambut kami
dengan oksigen alaminya,
sebuah kondisi yang sangat
jarang bisa ditemukan di
perkotaan.
Pemandangan dari depan vila
pun tak mau kalah ikut
menyuguhkan alam raya
bersahaja Pagaralam. Siap-siap
juga dengan bentangan karpet
alami raksasa berwarna hijau
serta tingginya Gunung Dempo
yang akan memanjakan mata
anda. Udaranya belum tercemar
oleh polusi, airnya pun murni
dari tanah. Paru-paru anda
dijamin sehat sekali selama di
sini!
Satu lagi yang menjadi nilai
tambah kawasan Pagaralam ini
adalah kebersihannya. Tak ada
sampah yang berserakan di
jalan, bahkan yang sekecil
apapun. Warga dan
penduduknya benar-benar
mengaplikasikan moto kawasan
mereka "Besemah", Bersih,
Sejuk, dan Ramah. Rasanya
kurang sekali jika hanya
menginap di Pagaralam sekitar
dua hari. Suasana alam raya dan
keramahan penduduknya
membuat kami betah dan ingin
tinggal lebih lama.
Di Pagaralam, kami menemukan
sebuah kesederhanaan hidup.
Ketika semua dimulai dari nol,
ketika manusia tak lagi serakah
dan sudah menelanjangi
egonya, ketika alam menjadi
pusat kehidupan, dan ketika
semuanya kembali bermuara
kepada-Nya. [@lucianancy]

Wisata Megalith Pagar Alam

Sebagai Kota Budaya dan Pariwisata, Kota Pagar Alam sangat konsisten dalam mengarahkan pembangunan kepada pemberdayaan sektor-sektor dalam rangka mengangkat citra kota Pagar Alam sebagai kota wisata.

Pagar Alam memang mempunyai segalanya sebagai penunjang dalam kepariwisataan, mulai dari pemandangan yang indah, peninggalan sejarah, sampai kepada keramahan penduduknya yang bisa dirasakan oleh pengunjung

Sangatlah tepat bila Pagar Alam disebut sebagai kota wisata, karena banyak sekali terdapat objek-objek wisata yang sangat tepat untuk dikunjungi dan mempunyai keindahan tersendiri. Mulai dari wisata alam sampai kepada wisata peninggalan sejarah dan budaya, sebagai contoh:

- Batu Gong di Dusun Nanding
- Arca Manusia Purba Di Desa Belumai
- Tradisi Megalitik
- Megalik Besemah
- Lukisan Purba di Besemah
- Kebudayaan suku basemah


Arca Manusia Purba
Di Desa Belumai

Image Objek-objek wisata tersebut sangat menakjubkan karena keindahan dan kekhasannya yang tidak terdapat di daerah lain. Seperti halnya dengan batu-batu peninggalan manusia purba. Batu-batu tersebut terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran, ada yang berbentuk manusia, hewan, rumah batu, lesung batu dan sebagainya, yang umurnya diperkirakan antara 2500-3000 tahun. Tak ubahnya pada objek wisata alam, Pagar Alam menawarkan begitu banyak wisata alam yang masih alami sampai sekarang untukdikunjungi. Seperti objek wisata Gunung Dempo yang dikelilingi oleh lembah-lembah yang indah, wisata sungai yang dapat dijadikan sebagai tempat olahraga arung jeram, serta wisata air terjun.

BATU JAJAR - di Tanjung Aro - MONUMEN MEGALITIK TERTUA

Prof Dr Moerdif Ba’as
(Dosen Fakultas Pertanian Unsri)
 
PENULIS pertama kali mengunjungi situs ini pada tahun 1985 atas ajakan Bapak Haji Nang Din Syukur, pemilik Hotel Darma Karya Pagaralam. Pada waktu itu yang dilihat arca “orang dipagut ular”, “rumah di dalam tanah” dan beberapa batu tegak yang pipih sebagai penutup pintu rumah tsb.
Kunjungan kedua ke situs ini pada tahun 1999 sewaktu mengantar karyasiswa Pasca-Sarjana Universitas Sriwijaya yang melakukan penelitian tanaman gandum di Jarai.
Pada suatu malam di bulan Oktober 2001 kebetulan penulis menonton siaran tentang kepurbakalaan di TVRI yang menyatakan bahwa peninggalan budaya megalitik di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan adalah budaya megalitik tertua di Indonesia yakni 4.000 tahun yang lalu (2.000 tahun B.C). Informasi itu telah menggelitik penulis untuk urun pendapat, lebih-lebih bila diingat Bpk Mayjen Harun Sohar pernah berpesan sewaktu penulis menyampaikan Pidato Dies Natalis Unsri tahun 1983: “Anda harus melihat berbagai peninggalan purbakala di kampung saya”. Pesan tersebut beliau kemukakan karena penulis menyajikan “batu gajah” dalam pidato tersebut.

Barangkali perlu diterangkan terlebih dahulu istilah megalit. Istilah megalith berasal dari bahasa Yunani berarti big stone, artinya batu besar. Beberapa megalit berupa batu besar yang panjang ditegakkan seperti pilar disebut dengan istilah ilmiah “menhir” berarti long stone=batu panjang. Istilah ini disarankan oleh sarjana Prancis, bernama Legrand ‘d Aussy yang mengambilnya dari bahasa Prancis Kuno. Hamparan batu-batu tersebut disebut “dolmen”. Jadi jelas bahwa hamparan batu-batu itu ada susunan dan sistemnya.


Kunjungan penulis berikutnya ke situs Tanjung Aro ini pada bulan Maret 2002. Pada kunjungan ini barulah penulis agak intensif memperhatikan penyebaran batu-batu di desa ini. Ada tiga jajaran batu di sini sepanjang 1 km dan lebarnya 50 m. Hampir semua batu-batu ini adalah batuan Andesit dari gunung berapi, jumlahnya 53 buah. Bila ditambah dengan “arca orang mendukung anak” yang sekarang ditempatkan di museum Bala Putra Dewa di Palembang maka jumlahnya 54 buah.

Ada beberapa batu yang penampilannya istimewa di sini yakni: “arca orang dipagut ular”, “batu kompas”, “batu menyesui”, “batu beraganjal tiga” sebanyak dua buah, “arca musibah” dan arca “orang mendukung anak” yang lokasi tepatnya pada batu jajar ini belum penulis ketahui.
Apa maksud dan tujuan dolmen ini diidirikan?
Merujuk kepada Monumen Megalitik “Stonehenge” yang diteliti di Inggeris pada tahun 1963 oleh Gerald Hawkins-ahli Astronomi pada Universitas Boston, di mana ia berkesimpulan bahwa Stonehenge di Inggris itu adalah observatorium astronomi, maka kemungkinan besar dolmen di Tanjung Aro ini juga merupakan Observatorium Astronomi. Bukti sepintas dapat dikatakan bahwa ajaran batu yang di tengah menunjukkan terbit dan terbenamnya matahari pada Khatulistiwa yakni pada bulan Maret dan bulan September, sedang jajaran batu sebelah Utara menunjukkan terbit dan terbenamnya matahari bulan Juni dan jajaran batu sebelah Selatan menunjukkan terbit dan terbenamnya matahari bulan Desember.

Bila kita dapat mencari dan menemukan batu-batu sebagai stasion pengamatan maka terbit dan terbenamnya bulan pada saat tertentu juga dapat diketahui. Demikian pula posisi bintang-bintang utama di langit.
Seharusnya jumlah batu pada dolmen ini 56 buah, untuk menunjukkan bahwa siklus gerhana matahari pada suatu tempat selama 56 tahun. Jadi ada dua batu lagi yang harus dicari dan ditentukan posisinya. Mungkin batu yang hilang itu sudah menjadi bahan bangunan. Maklum desa Tanjung Aro dilalui jalan raya dan sebagian dolmen sudah menjadi pemukiman penduduk.
Pada kesempatan ini penulis mengimbau Pemerintah terutama Pemerintah Daerah agar lebih memperhatikan dan memelihara peninggalan budaya ini. Jangan sampai terjadi monumen ini hilang begitu saja ditelan pembangunan karena letaknya di dalam Kota Pagaralam.

Oleh karena itu situs ini merupakan salah satu Monumen Megalitik tertua di Indonesia, tidak ada salahnya bila Pemda Sumatera Selatan memberi perhatian lebih dan menempatkan atau meng-upgrade petugas yang menjaga situs ini sehingga pengunjung akan lebih mengerti tentang situs ini. Hal ini sangat besar artinya bagi pengembangan pariwisata di Sumatera Selatan khususnya di Kota Pagaralam.
Dokumentasi dan LPP

Rumah - Besemah Baghi Beukiran - Falsafah Hidup

 
KOMPAS/Buyung Wijaya Kusuma 
Rumah baghi besemah yang berusia ratusan tahun di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, hingga saat ini masih bertahan karena menggunakan material kayu yang kuat.








KOMPAS.com -  Berkunjung ke Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, belum lengkap jika tidak menyinggahi salah satu rumah tradisional (baghi) suku Besemah. Selain desain arsitektur yang menarik, fisik bangunan yang usianya ratusan tahun itu mengundang kekaguman bagaimana rumah tersebut dibangun.

Hal itu terutama bila melihat 15 buah tiang kayu penyangga bangunan berukuran 30 sentimeter x 30 sentimeter, enam tiang penyangga teras rumah berbentuk bulat dengan diameter sekitar 60 sentimeter, dan papan kayu rumah dengan ketebalan sekitar 5 sentimeter. Kita pasti akan bertanya-tanya, bagaimana orang-orang pada masa lalu mengangkut kayu-kayu raksasa tersebut dari dalam hutan.

Oleh karena itu, tak salah jika Pemerintah Kota Pagar Alam memasukkan rumah-rumah tradisional Besemah sebagai obyek wisata, selain benda-benda megalitikum dan wisata alam Gunung Dempo. Jumlah baghi besemah memang tidak banyak karena hanya orang-orang yang memiliki strata sosial tinggi dan punya banyak uang yang mampu membangun rumah tersebut.

”Biaya ukir rumah bisa mencapai sepertiga dari biaya total pembangunan rumah,” kata pemilik baghi besemah, Musa Akib (69), di Kelurahan Pagar Wangi, Dempo Utara, Pagar Alam.

Mengenai bagaimana kayu dikumpulkan, Musa mengatakan kisah pembangunan rumahnya mengandung cerita mistis. Konon saat rumah akan dibangun, warga di sekitarnya dilarang keluar rumah pada malam hari karena akan ada pengiriman kayu. Setelah itu, keesokan paginya, kayu-kayu tiang yang dibutuhkan sudah ada di lahan pembangunan rumah.

Musa adalah generasi kelima pemilik baghi tersebut. Rumah yang terletak di tengah sawah itu diperkirakan berumur lebih dari 200 tahun. Namun, rumah yang sudah tak dihuni itu masih terlihat kokoh. Warna hitam kayu juga terlihat masih baru dan alami, tanpa dicat. Dulu, atap rumah terbuat dari daun ijuk.

Bagian dalam rumah baghi tidak memiliki sekat sama sekali. Bagian inti rumah berukuran 8 meter x 8 meter. Ruang ini berfungsi sebagai ruang keluarga, ruang tidur, sekaligus tempat menerima tamu.

Ukiran

Ketua Lembaga Adat Besemah Haji Akhmad Amran mengatakan, rumah baghi yang diukir disebut sebagai rumah tatahan (ukiran), sementara rumah yang tak diukir disebut rumah gilapan. Kualitas kayu rumah yang diukir juga jauh lebih baik dibandingkan dengan rumah yang tak memiliki ukiran.

”Bentuk kedua rumah itu sama. Hanya ada tidaknya ukiran yang membedakan karena keberadaan ukiran merupakan cerminan status sosial pemilik rumah yang tinggi,” katanya.

Dalam motif ukiran juga terkandung doa dan harapan. Motif bunga dalam posisi vertikal merupakan pengharapan bahwa rezeki pemilik rumah akan terus naik. Sementara motif bunga horizontal menjadi perlambang persatuan dan gotong royong.

Motif ukir lain yang unik adalah bubulan yang berbentuk lingkaran. Motif ukir yang biasanya terletak di dinding samping rumah itu merupakan simbol persatuan yang kuat di antara sesama penghuni rumah. Bagian tengah bubulan umumnya terdapat lubang yang digunakan sebagai tempat mengintip penghuni rumah terhadap kondisi dan suasana di luar rumah.

Musa mengaku, sejumlah orang telah menawar untuk membeli rumahnya, tetapi dia tidak akan pernah tertarik berapa pun harga yang ditawarkan. Sikap Musa mewakili banyak orang Pagar Alam yang menganggap tempat tinggal sebagai tempat bersatunya keluarga untuk tumbuh lebih maju, seperti falsafah hidup dari setiap ukiran yang ada di dinding baghi besemah.

(Wisnu Aji Dewabrata/M Zaid Wahyudi/Buyung Wijaya Kusuma/KOMPAS Cetak)

"Adat Besemah Nyaris Pudar Tertelan Zaman" :'(

Ketua lembaga adat besemah H.Amran di dampingi sekretaris Satarudin Tjik olah mengaku, adat besemah di Kota Pagaralam saat ini, sudah ada yang memudar di telan perkembangan zaman kendati demikian, sebagai wujud pelestariannya maka di bentuklah lembaga adat pada 2003 lalu, dan sebagai adat yang hilang, kini di angkat lagi ke permukaan. Dengan di bentuknya lembaga adat besemah sejak 2003 lalu, lambat laun sebagian adat yang mulai memudar, kini di lestarikan lagi, ujar H.Amran di temu I di stand lembaga adat besemah, kemarin melihat kondisi tersebut, sebenarnya pihaknya perhatian dan khawatiran adat besemah ini nantinya memudar.

Untuk itu, atas kesepakatan dan ide bersama, dibentuklah lembaga adat ini sebagai harapan jangan sampai adat tersebut hilang ditelan zaman. Kondisi nyata sebagai adat asli besemah memang ada yang memudar, dan tidak dipergunakan lagi seperti dalam acara ritual tertentu ataupun pernikahan oleh masyarakat asli kota pagaralam, ucapnya. Dimana adat yang kian memudar tersebut, seperti tarian kepala kerbau yang dulunya kerap ditampilkan dalam prosesi pernikahan, dan juga ritual sebelum pemotongan kerbau pada saat pernikahan. Selain itu, ada juga ritual membuka ladang atau sawah yang saat ini bisa dikatakan tidak lagi dilakukan.

Ada juga ritual makan padi empai, ritual yang dimaksudkan menikmati panen padi pertama yang mengundang tetangga dekat atau warga disekitar lahan sawah atau lading, ritual tersebut saat ini juga jarang sekali dilakukan masyarakat, tarian kepala kerbau misalnya, saat ini sangat jarang diikutkan dalam prosesi pernikahan. Tarian tersebut ditampilkan sewaktu resepsi penikahan anak walikota Pagaralam, ucapnya selain itu masih banyak adat Besemah lainnya. Diantaranya aturan dalam tata keramah, sopan santun, dan turur kata kepada orang tua, juga termasuk syarat prosesi penikahan yang sebagian telah ditinggalkan.

Belum lagi, aksara besemah ulu tidak banyak yang mengenalnya, benda – benda kesenian asli besemah seperti tenung, redam, gong, serdam, girng-giring (mirip angklung), genggung (alat tiup), dan dekot.
Untuk itu perlunya dijaga kelestarian adat asli besemah. Dengan harapan nantinya dapat terus dilestarikan ke anak cucu. Selain itu upaya yang dilakukan dengan menampilkan buku kumpulan adat besemah pada cetakan ke empat dan telah mengikuti sebanyak 300 eksemplar. Saat ini juga tersisah beberapa buku saja, ujarnya. Oleh karena itu, bagi para pengunjung besemah ekspo tahun ini beberapa adat besemah bisa di cari
informasinya dengan mengunjung stand lembaga adat besemah. Disini beragam kumpulan buku adat besemah bisa didapat termasuk penjelasan hurup kuno besemah dan alat kesenian juga ditampilkan.(KOMINFO 24 Juni 2010 by zikri&cica LD)

Besemah "Tanah Para Leluhur"

Wisnu Aji
Dewabrata dan
Buyung Wijaya
Kusuma
Yopi, petani kopi
dari Desa Talang
Pagar Agung, Kecamatan Pajar
Bulan, Kabupaten Lahat,
Sumatera Selatan, tak pernah
menyangka kalau di bawah
kebun kopi yang setiap hari
dilaluinya terdapat peninggalan
megalitik berupa bilik batu. Dua
bilik batu yang letaknya
bersebelahan itu ditemukan
pada Desember tahun 2009.
”Pemilik kebun ini Pak Lukman.
Suatu hari dia bermimpi kalau
di bawah batu besar di
kebunnya ada sesuatu. Pak
Lukman mengikuti perintah
mimpinya dan menemukan dua
bilik batu ini, ” kata Yopi, pekan
terakhir Februari lalu.
Menemukan peninggalan
megalitik melalui mimpi adalah
cerita yang umum di
masyarakat. Apa pun cerita
yang beredar dari mulut ke
mulut, kenyataannya memang
banyak penemuan peninggalan
megalitik di Kabupaten Lahat
dan Kota Pagaralam.
Peninggalan megalitik Besemah
berwujud bilik batu, batu
berlubang (lumpang), arca, batu
tegak, dan dolmen.
Wilayah Lahat dan Pagaralam
adalah bagian dari Pegunungan
Bukit Barisan di pantai barat
Sumatera. Kedua kawasan itu
sampai ke sebagian wilayah
Bengkulu disebut sebagai
kawasan Besemah (Pasemah).
Besemah merupakan daerah
pegunungan subur untuk
pertanian sehingga tak heran
bila kawasan itu menjadi pusat
permukiman sejak ribuan tahun
lalu.
Peninggalan megalitik Besemah
mulai diteliti tahun 1930-1931
oleh Van der Hoop dari Belanda.
Buku karya Van der Hoop
berjudul Megalithic Remains in
South Sumatera (1932)
merupakan buku babon yang
mengulas megalitik Besemah
secara lengkap.
Tujuh bilik
Lebih dari 50 tahun setelah Van
der Hoop menulis bukunya,
pada tahun 1988 ditemukan
lagi tujuh bilik batu di Desa
Kotaraya Lembak, Kecamatan
Pajar Bulan, Kabupaten Lahat.
Tujuh bilik batu itu tersembunyi
di bawah tanah di antara
rimbunnya kebun kopi.
Penemuan tujuh bilik batu
merupakan penemuan
peninggalan megalitik terbesar
di kawasan Besemah dari segi
jumlah.
Di dalam salah satu bilik batu,
sampai saat ini masih bisa
dilihat lukisan berbentuk kepala
naga. Lukisan tersebut dibuat di
atas batu dengan
menggunakan warna merah
dan putih.
Penemuan peninggalan
megalitik terbaru adalah dua
bilik batu di Desa Talang Pagar
Agung pada Desember 2009.
Ukuran ruangan di dalam kedua
bilik batu sekitar 2 x 1,5 meter
dengan ketinggian 1,8 meter.
Penemuan itu istimewa karena
di dalam bilik batu ditemukan
arca kepala manusia setinggi 30
sentimeter.
Di Desa Pulaupanggung,
Kabupaten Lahat, pada 2009
juga ditemukan sebuah
lumpang batu yang terkubur di
kedalaman satu meter di tengah
kebun kopi. Lumpang tersebut
diukir berbentuk ular yang
sedang menelan anak kecil.
Warga yang menemukan
lumpang batu itu juga mengaku
mendapat mimpi sebelum
menggali tanah.
Lokasi penemuan lumpang batu
tidak jauh dari lokasi tiga arca
megalitik berbentuk manusia
yang sudah diteliti oleh Van der
Hoop. Untuk mencegah
kerusakan, warga memasang
pagar bambu di sekeliling situs.
Di dinding bilik batu Talang
Pagar Agung, terdapat lukisan
berbentuk lingkaran, lukisan
tangan manusia, dan lukisan
seekor binatang mirip kadal. Di
bagian atapnya ada lukisan
berbentuk pola anyaman.
Ayu Kusumawati dan Haris
Sukendar dalam buku Megalitik
Bumi Pasemah Peranan Serta
Fungsinya menyebut, di
kawasan Besemah terdapat
sedikitnya 20 lokasi
peninggalan megalitik. Tersebar
di areal seluas 80 kilometer
persegi. Nama-nama daerah
tempat peninggalan megalitik
adalah Tinggihari, Tanjungsirih,
Pulaupinang, Lubukbuntak,
Pulaupanggung, Air Puar,
Tebing tinggi, Geramat, Mingkil,
Nanding, Tebatsibentur,
Tanjung Arau, Tegur Wangi,
Belumai, Kotaraya Lembak,
Muaradua, Bandaraji,
Gunungkaya, Muara Tebu, dan
Pagaralam.
Banyaknya peninggalan
megalitik di Besemah adalah
suatu petunjuk bahwa kawasan
itu telah dihuni manusia
setidaknya sejak 2.500 tahun
sebelum Masehi. Pahatan detail
dan halus berarti masyarakat
Besemah saat itu sudah
mengenal logam.
Peneliti Balai Arkeologi
Palembang, Kristantina
Indriastuti, berpendapat, bilik
batu ataupun arca di Besemah
dibangun untuk tujuan religius.
Di dalam tanah itulah mereka
melakukan ritual. Bentuk arca
manusia, seperti di situs
Tegurwangi dan situs
Pulaupanggung, menurut
Kristantina, adalah khas
Besemah. Cirinya, bentuk
manusia yang digambarkan
dalam arca bertubuh tambun,
bibir tebal, dan hidung pesek.
Arca-arca megalitik Besemah
dibuat dengan alat semacam
pahat dari logam. Jelaslah
bahwa peninggalan megalitik
Besemah eksis pada masa
perundagian atau lebih kurang
2.500 tahun sebelum Masehi.
” Bentuk manusia dalam arca
Besemah adalah figur manusia
yang hidup di Besemah pada
masa itu. Figur arca itu bukan
menggambarkan wujud para
dewa atau nenek moyang, ” kata
Kristantina.
Ia berpendapat, masyarakat
Besemah yang menciptakan
arca dan bilik batu adalah
penduduk asli, bukan
pendatang dari luar Sumatera.
Cikal bakal manusia yang hidup
di Besemah kemungkinan
berasal dari manusia goa yang
hidup 5.000-9.000 tahun
sebelum Masehi. Bekas-bekas
kehidupan manusia goa
ditemukan di Kabupaten Ogan
Komering Ulu, Sumsel. Jadi,
kebudayaan manusia goa jauh
lebih tua dari kebudayaan
manusia Besemah.
Kuat dugaan bahwa masyarakat
Besemah yang menciptakan
bilik batu dan arca batu itu
tidak pernah berpindah tempat.
Dataran rendah Sumsel baru
berkembang setelah masuknya
pengaruh Kerajaan Sriwijaya
pada abad VII Masehi dan
masuknya pengaruh Islam.
(M Zaid Wahyudi)
Editor: jodhi Sumber : Kompas

Menyingkap Tabir Peradaban Besemah sebagai pendahulu Kerajaan Sriwijaya

“Sebuah Catatan Dari Seminar
Nasional Peradaban Besemah
Sebagai Pendahulu Kerajaan
Sriwijaya”Oleh : Budiarjo Sahar
(Wakil Sekjen DPD KNPI Kota
Pagar Alam, Ketua Pemuda
Muhammadiyah Kota Pagar Alam,
Tenaga Pengajar STKIP
Muhammadiyah Pagar Alam)
Spektakuler, itulah barangkali
kata yang pas untuk
disampaikan atas
terselenggaranya Seminar
Nasional “Peradaban Besemah
Sebagai Pendahulu Kerajaan
Sriwijaya” yang merupakan kerja
bareng antara Direktorat
Jenderal Kesatuan Bangsa dan
Politik (Dirjen Kesbangpol)
dengan Pemerintah Kota Pagar
Alam yang mengangkat tema :
Dengan Seminar Nasional
Peradaban Besemah Sebagai
Pendahulu Kerajaan Sriwijaya
Kita Wujudkan Persatuan dan
Kesatuan Bangsa Serta Rasa Cinta
Tanah Air. Seminar akbar yang
dilaksanakan ini terbilang sukses
karena cukup istimewa dan
berbeda dengan seminar-
seminar yang pada umumnya
dilaksanakan, terutama
pesertanya terdiri dari para raja-
raja/sultan seantero nusantara,
para budayawan, arkeolog dan
pakar-pakar sejarah dari tingkat
nasional dan lokal.
Walaupun terbilang sukses
seminar ini masih menyisakan PR
besar dan perlu ditindaklanjuti
karena sampai seminar ini
berakhir tidak ada satu pihakpun
dalam seminar tersebut yang
dapat menjelaskan secara pasti
letak sesungguhnya Kerajaan
Sriwijaya, namun bukan tidak
beralasan kalau dikatakan bahwa
peradaban Besemah sebagai
pendahulu Kerajaan Sriwijaya. Hal
ini dibuktikan dengan banyaknya
temuan peninggalan peradaban
masa lalu, berupa batu-batu
besar yang berasal dari aktivitas
kebudayaan megalitik, antara lain
dalam bentuk ruang batu (rumah
batu), kubur batu, pahatan yang
membentuk lukisan
dipermukaan bukit batu dan
arca-arca yang tersebar ditanah
Pasemah.
Hal ini didukung oleh hasil
penelitian beberapa pakar
megalitik berkewarganegaraan
Belanda, salah satunya A.N.J.Th.A
Th. Vander Hoop, yang hasil
penelitiannya dituangkan dalam
sebuah buku yang berjudul : The
Megalitic Remains In South
Sumatera (1932). Mengenai
temuan sejumlah besar megalitik
di Dataran Tinggi Pasemah
didalam bukunya dikatakan
“merupakan bukti yang kaya
diawal sejarah’. Bukti-bukti itu
menurut para pakar dapat
dijadikan titik awal peradaban
megalitik yang selanjutnya
berkembang di wilayah Sumatera
dan Jawa. Hal ini didukung pula
oleh pendapat budayawan
terkemuka di Sumatera Selatan
yaitu Djohan Hanafiah yang
memprediksi bahwa Dinasti
Syailendra tersebut berasal dari
dataran tinggi Pasemah dan
sekitar Gunung Dempo.
Yang tidak kalah menariknya lagi
Raja Jogjakarta Sultan
Hamengkubuwono X disaat
bersilaturahmi dengan jajaran
Pemerintah Kota Pagar Alam,
sehari setelah Seminar Nasional
yang diselenggarakan di Kota
Pagar Alam tersebut. Seperti yang
disampaikan kembali oleh
Walikota Pagar Alam Drs. H.
Djazuli Kuris, MM pada saat
pembinaan kepada pegawai
dilingkungan Pemerintah Kota
Pagar Alam, menyampaikan
bahwa Sri Sultan
Hamengkubuwono X, secara
tegas mengakui dan menyatakan
bahwa Sri Sultan
Hamengkubuwono X merupakan
keturunan Kerajaan Syailendra,
sedangkan Kerajaan Syailendra
berasal dari Dataran Tinggi
Pasemah.
Disisi lain Walikota Pagar Alam
Drs. H. Djazuli Kuris, MM
menegaskan bahwa seminar ini
bukanlah akhir dari perjuangan,
tetapi merupakan momentum
awal upaya untuk mengenal
sejarah Kerajaan Sriwijaya serta
akan ada penelitian lebih lanjut
“Besemah Sebagai Pendahulu
Kerajaan Sriwijaya”. Kemudian
harapan Walikota Pagar Alam
selaku tuan rumah
penyelenggara seminar ini
disambut positif oleh Gubernur
Bengkulu Agusrin Najamudin,
yang juga merupakan salah satu
tokoh muda di Sumatera Bagian
Selatan ini, yang menghimbau
agar para Gubernur di Sumatera
Bagian Selatan ini agar duduk
bersama, untuk menindaklanjuti
seminar ini.
Apabila penelusuran sejarah ini
dilanjutkan maka benang merah
hubungan kekeluargaan akan
semakin terlihat bahwa Kerajaan
Sriwijaya ada keterkaitan erat
dengan Kerajaan-kerajaan di
Jawa. Hal ini dapat dijadikan satu
dasar/pondasi dimana para
keturunan Raja-raja tersebut
dapat menyatukan kembali
kebesaran dan kehebatannya
tetapi dalam bentuk yang
berbeda, bukan lagi dalam
bentuk kekuasaan tetapi dalam
bentuk budaya, dimana budaya
merupakan benteng terakhir
sebagai perekat bangsa.
http://jemekite.com/

Nasib Base nga Kesusastraan Kite

Pagaralam, Sumsel -
Keberadaan bahasa dan sastra
Besemah semakin terancam
punah, disebabkan kuatnya
pengaruh budaya modern dalam
kehidupan masyarakat Kota
Pagaralam, Provinsi Sumatera
Selatan.
"Perlu ada upaya untuk
melestarikan berbagai seni
budaya daerah termasuk satra
Besemah, baik melalui kurikulum
sekolah dengan membentuk
perda (peraturan daerah) khusus
terkait persoalan itu," kata
pemerhati bahasa dan budaya
Besemah, Supratman Sulaiman, di
Pagaralam, Kamis.
Langkah yang harus dilakukan
untuk kembali melestarikannya
adalah dengan memasukkan
bahasa dan sastra Besemah yang
dikenal dengan istilah "peta-
petiti" ke dalam kurikulum
sekolah. Hal ini penting dilakukan
karena hingga sekarang cukup
banyak masyarakat terutama
generasi muda telah melupakan
bahasa dan sastra yang pernah
ada di Kota Pagaralam.
"Guna menyelamatkan warisan
leluhur yang mempunyai
kekhasan dan memiliki nilai-nilai
budaya yang cukup tinggi
tersebut, salah satu solusinya
adalah dengan memperkenalkan
bahasa dan sastra Besemah
kepada anak usia sekolah," kata
dia.
Generasi muda sekarang ini
sudah banyak yang lupa, bahkan
tidak mengenal sama sekali
bahasa dan sastra Besemah atau
yang dikenal dengan bahasa
daerah.
Terlebih lagi, kata dia, karena
bahasa dan sastra lokal ini
sangat penting untuk
diselamatkan, maka sudah
seharusnya jika dimasukkan ke
dalam kurikulum sekolah dari
tinggkat SD hingga SMU. Dengan
demikian, sastra tutur asli
Besemah tersebut dapat kembali
dilestarikan.
Ia melanjutkan, sebenarnya jika
diamati secara mendalam khusus
untuk sastra Pagaralam memiliki
nilai pendidikan yang tinggi,
terutama dalam memberikan
pendidikan moral kepada
masyarakat dan menjalan
kehidupan sehari-hari.
“Artinya, penerapan bahasa dan
sastra Besemah masih cukup
relavan dengan kondisi kini
sebab ada banyak pesan-pesan
moral yang disampaikan," kata
dia lagi.
Sementara itu, Kepala Disdikpora
Kota Pagaralam Akmaludin
mengatakan, wacana
memasukkan bahasa dan sastra
Besemah dalam kurikulum
sekolah merupakan langkah
positif dan akan segera
dilaksanakan.
"Meski demikian, untuk
menerapkan masuknya bahasa
dan sastra Besemah dalam
kurikulum masih terkendala
belum siapnya SDM, terutama
untuk tenaga pengajar yang
paham dengan sastra Besemah,"
kata dia lagi.
Sumber:
http://oase.kompas.com

Senin, 24 Januari 2011

Waspadai organisasi "Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu" yang menanfaatkan sejarah Puyang Awak (Syekh Nur Qodim Bahrudin) dan Jagat Besemah"

Sriwijaya Post - 17 Juni 2010
MUARAENIM - Untuk menjaga hal-
hal yang tidak diinginkan dan
menjaga situasi tetap kondusif,
Bupati Muaraenim, Ir Muzakir SS,
menghimbau dan mengingatkan
kepada seluruh PNS dilingkungan
Pemkab Muaraenim, untuk
melakukan pengawasan terhadap
keberadaan Organisasi
Mudzakarah Ulama Serumpun
Melayu di wilayah Kabupaten
Muaraenim.
Larangan yang tertuang dalam
surat Bupati Muaraenim No :
450/354 BKBPMM/2010 pada
tanggal 10 Mei 2010 karena
organisasi ini dinilai memiliki visi
yang menyimpang sehingga perlu
dilakukan pengawasan. Namun
pihaknya belum mengetahui
secara pasti keberadaan
organisasi tersebut maupun
bentuk penyimpangannya.
“Secara tekhnis, ajaran ataupun
lainnya belum di ketahui secara
persis. Namun, diduga organisasi
ini beraliran keras, ” kata Kepala
Kesbang Linmas Kabupaten
Muaraenim, Drs H M Firdaus MM,
Kamis (17/6).
Dia menambahkan imbauan yang
dibuat Pemkab setelah ada surat
serupa dari Pemprov Sumsel.
Komentar serupa dinyatakan
Kasubid Ketahanan Ekonomi,
Kesbang Linmas Muaraenim, Sadat
Usman.
Ardani Zuhri

Minggu, 23 Januari 2011

GURITAN "KERIYE RUMBANG NGEMPANG LEMATANG"

Uuuuuy
Tembay uway tembay lengguway
Tembay bejejak di pantunan
“ Pantun mamak ngambik buluh
Ambik ujung buwang di pangkal
Ambik di tengah njadi sigian
Pacak dibuwat sambang ayik
Ayik keghing sambang dikepit
Njadi peranti nebah guritan ”.
Dide mandak pantun di sane
Pantunan masih diganjurkan
“ Pantun dicare ughang dusun
Minjam pahat minjam landasan
Minjam mate-pisaw landap
Minjam adat dusun-laman
Minjam care kandik berucap ”
Iluk niyan mangkal pantunan
Lah iluk pule mangkal guritan
Guritan ini kami batasi
Guritan care jeme baghi
Cerite sukat KERIYE RUMBAK
Lanang gedang NGEMPANG
LEMATANG
Kamu ndak tau ceriteannye
Aningi kuday mangke sampay
Uuuuuy
Seliyuk selimbang alay
Betemu muware sangkup
tanjungan
Singgan dikukup aban putih
Sibang disinjar mate-aghi
Di bawah langit teterukup
Di pucuk bumi tarebentang
Kah pantak undur bekelam
Tentangan bukit Isaw-isaw
Balik sane kumpay berapat
Balik ke sini kumpay teghapung
Balik sane banjaran umbak
Balik ke sini banjaran bungin
Berekat sepate sesumbaran
Nggah kelaway alap ungkay
Nggah rapitan tanah mudik.
Artinya:
Oooooi
Tembay uway tembay lengguway
(mula dibuka cerita)
Mula berawal pada pantun
(perumpamaan)
Pantun paman mengambil
bambu
Diambil bagian ujung, dibuang
bagian pangkal
Diambil bagian tengah
Yang dapat dibuat sambai
Jika air kering (tidak ada air)
Sambang dikepit
(dibawa di bawah ketiak)
Dijadikan alat untuk menuturkan
guritan
Tidak berhenti pantun di bagian
itu
Pantunan (perumpamaan) masih
diteruskan
“ yaitu pantun (seumpama) orang
di dusun
Meminjam pahat meminjam
landasan
Meminjam mata parang yang
tajam
Meminjam (memakai) adat
kebiasaan dusun-laman
Meminjam cara untuk bertutur”
Sungguh baik memulai pantunan
(kisahan/pemisahan)
Sudah bagus pula untuk memulai
guritan
Guritan ini kami batasi
Guritan cara orang-orang dulu
Cerita tentang kehidupan KERIYE
RUMBAK
Lelaki perkasa yang
membendung sungai Lematang
Kamu mau tau ceritanya?
Dengarkan dulu supaya sampai
Oooooi
Sekelokan seputar pohon alay
Bertemu muara yang sempit
Terlihat sepertiditutupi awan
putih
Ketika disinari cahaya matahari
Di bawah langit tertelungkup
Di atas bumi terbentang
Akan membuat rasa-rasa ingin
menyepi di situ
Setentang dengan bukit isaw-
isaw
Ke sanalah kumpay (nama jenis
tumbuhan lebak berkumpul)
Ke sinilah kumpay terapung
Ke arah sana barisan ombak
berkejar-kejaran
Ke sanalah juga tumpukan pasir
Berkat sampah dan semboyan
Dengan saudara perempuan
yang cantik lagi jenjang
Dengan saudara-saudara
tetangga di uluan
(Guritan “KERIYE RUMBANG
NGEMPANG LEMATANG”
dituturkan oleh Irfan dan
Sarkowi, ditranskripsikan penulis
dan diterjemahkan A. Bastari
Suan)
Sumber : dodinp.multiply. com

Sabtu, 22 Januari 2011

Sejarah Islam di Tanah Melayu. BENARKAH?

Berdasarkan Hasil Pelacakan Sejarah yang telah dilakukan, maka ada beberapa bukti sejarah yang ditemukan :
1. Pada tahun 1650 masehi atau 1072 hijriyah telah bertemu sekitar 50 ’ulama di Perdipe, Sumatera Selatan.
2. Mereka berasal dari wilayah Rumpun Melayu yang meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.
3. Hasil Mudzakarah ini memunculkan perluasan dakwah Islam yang berakibat terkikisnya faham anismisme dan budaya jahiliyah di masyarakat.
4. Munculnya kader-kader mujahid yang mengadakan perlawan terhadap penjajah Eropa.
5. Terjadinya perluasan wilayah Islam yang ditandai dengan munculnya Kesultanan yang baru yang masing-masing saling bekerjasama secara baik.
A. Siapakah Tokoh Sentral pada Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu abad 17 M
Berdasarkan arsip kuno berupa kaghas (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan yang diterjemahkan pada tahun 1974 oleh Drs. Muhammad Nur (ahli purbakala Pusat Jakarta), ada beberapa catatan sejarah. Bahwa pada tahun 1072 Hijriyah atau 1650 Masehi telah ada seorang tokoh ’Ulama yang bernama Syech Nurqodim al-Baharudin yang bergelar Puyang Awak yang mendakwahkan Islam di daerah dataran Gunung Dempo Sumatera Selatan.
Menurut buku ”Jagad Basemah Libagh Semende Panjang”, Terbitan Pustaka Dzumirah, Karya TG.KH. Drs. Thoulun Abdurrauf, dinyatakan bahwa pada abad ke 14 – 17 Masehi, kaum Imperialis dan Kapitalis Eropa (Portugis, Inggris, dan Belanda) telah merompak di lautan dan merampok di daratan yang diistilahkan dalam bahasa melayu, yaitu mengayau. Mereka dengan taktik devide et impera berusaha memecah-belah penduduk di Rumpun Melayu yang berpusat di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaka. Maka para waliullah di daerah tersebut dengan dipelopori oleh Syech Nurqodim al-Baharudin pada tahun 1650 M / 1072 H menggelar musyawarah yang berpusat di Perdipe (Sekarang masuk wilayah Kota Pagar Alam, Dataran Gunung Dempo, Sumatera Selatan). Tujuan musyawarah ini antara lain guna menyusun kekuatan bagi persiapan perang bulan sabit merah untuk menumpas ekspansi perang salib di Asia Tenggara.
Masih menurut beliau, bahwa kosa kata ”belanda” konon adalah sebutan bahasa melayu untuk orang netherlands. Kata belanda berasal dari dua suku kata ”belah” (memecah) dan ”nde” (keluarga), maknanya ”tukang memecah-belah keluarga”. Berbeda maknanya dengan kata ”semende” dari dua suku kata ”same” (satu) dan ”nde” (keluarga), maka maknanya ”satu keluarga” yaitu persaudaraan mukmin.
B. Siapakah Syaikh Nurqodim al-Baharudin
Syech Nurqodim al-Baharudin adalah cucu dari Sunan Gunung Jati dari Putri Sulungnya Panembahan Ratu Cirebon yang menikah dengan Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang. Syech Nurqodim al-Baharudin kecil, beserta ketiga adiknya dididik dengan aqidah Islam dan akhlaqul karimah oleh orang tuanya di Istana Plang Kedidai yang terletak di tepi Tanjung Lematang.
Sewaktu remaja beliau digembleng oleh para ’ulama dari Aceh Darussalam yang sengaja didatangkan ayahnya. Ketika tiba masanya menikah beliau menyunting gadis dari Ma Siban (Muara Siban), sebuah dusun di kaki Gunung Dempo yang memiliki situs Lempeng Batu berukir Hulu Balang menunggang Kuda dengan membawa bendera Merah Putih (lihat buku ”5000 tahun umur merah putih” karya Mister Muhammad Yamin). Setelah bermufakat, beliau sekeluarga beserta adik-adiknya, keluarga dan sahabatnya membuka tanah di Talang Tumutan Tujuh, sebagai wilayah yang direncanakan beliau untuk menjadi Pusat Daerah Semende.
Menurut salah seorang keturunan beliau yang masih ada sekarang-TSH Kornawi Yacob Oemar-, dalam sebuah makalahnya dinyatakan bahwa, Syech Baharudin adalah pencipta adat Semende. Sebuah adat yang mentransformasi perilaku rumahtangga Nabi Muhammad SAW. Beliau juga pencetus falsafah ”jagad besemah libagh semende panjang”, yaitu ”Negara Demokrasi” pertama di Nusantara (1479-1850). Akan tetapi ”negara” itu runtuh akibat peperangan selama 17 tahun (1883-1850) malawan kolonial Belanda.
Sebelum ke Tanah Besemah, Syech Baharudin bermukim di Pulau Jawa dan hidup satu zaman dengan Wali Songo. Beliau sangat berpengaruh di di bahagian tengah dan selatan Pulau Jawa. Sedangkan Wali Songo pada masa sebelum berdirinya Kerajaan Bintoro Demak memiliki pengaruh di Pantai Utara Pulau Jawa. Tertulis dalam Kitab Tarikhul Auliya, bahwa untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa-yaitu Demak, maka ada 16 orang wali bermusyawarah di Masjid Demak termasuk pula Syech Baharudin dan beberapa wali dari Pulau Madura.
Dalam musyawarah itu Sunan Giri menginginkan agar dibentuk suatu negara Kerajaan dengan mengangkat Raden Fatah sebagai raja /sulthan dengan alasan negara baru tersebut tidak akan diserbu balatentara Majapahit, mengingat Raden Fatah adalah anak dari raja Majapahit. Konon dari 16 wali tersebut, 9 orang yang mendukung pendapat ini dan tujuh orang yang berbeda pemahaman dalam strategi dakwahnya termasuk Syech Baharudin.
Syech Baharudin (Puyang Awak) menginginkan suatu daulah seperti Madinah al Munawarah pada masa Rosulullah SAW. Namun demi menjaga persatuan ummat Islam yang kala itu jumlah belum banyak, beliau memutuskan untuk hijrah (melayur) ke Pulau Sumatera. Dari tanah Banten beliau menyeberang ke Tanjung Tua-ujung paling selatan Pulau Sumatera-. Kemudian menyusuri pesisir timur, yaitu daerah Ketapang-Menggala-Komering-Palembang-Enim dan Tiba di Tanah Pasemah lalu menetap disana tepatnya di Perdipe.
Disepanjang perjalanan, sebagai seorang mubaligh beliau selalu mendatangi tempat-tempat dimana masyarakat masih belum mengenal agamaTauhid dan akhlaqul qarimah, untuk mengajarkan nilai-nilai ajaran Islam dengan metode yang sangat sederhana yaitu memepergunakan kultur budaya masyarakat setempat sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat beberapa suku di perdalaman Sumatera Bagian Selatan, Puyang Awak adalah penyebar agama Islam yang sangat kharismatik. Nama beliau menjadi legenda dari generasi ke generasi terutama sikap beliau yang menunjukkan rasa peduli dan kasih sayang yang sangat tinggi terhadap semua makhluk ciptaan Allah.
Di tanah Pasemah pada waktu itu, Puyang Awak melihat pola hidup masyarakat sangat jauh dari kehidupan yang islami.Adanya praktek-praktek perbudakan dikalangan masyarakat.Perampokan dan penjarahan bagkan penculikan terhadap wanita dan anak-anak dari suku-suku lain disekitar Basemah [dalam bahasa basemah disebut ’nampu’] untuk dijadikan budak [dalam bahasa pasemah disebut ’pacal’], dianggap suatu kebanggaan. Bahkan ada satu keluarga besar yang memiliki ratusan ekor kerbau dan sapi serta puluhan orang pical, pada waktu ia mengadakan suatu pesta pernikahan anaknya, dengan pesta besar-besaran dengan menyembelih puluhan ekor sapi dan kerbau. Untuk menambah ’kebanggaan’ dari keluarga tersebut, maka diumumkan bahwa yang punya hajatan juga akan ’menyembelih seorang pacal’. Suatu bentuk kedzaliman yang melebihi perbuatan kaum jahiliyah Suku Quraisy di Kota Mekkah pada zaman nabi Muhammad SAW.
Pola hidup masyarakat Basemah yang liar, zalim, dan biadab seperti itu, bukan hanya diceritakan kembali secara turun-tumurun dari generasi ke generasi, melainkan tercatat pula pada tulisan-tulisan kuno aksara ka-ga-nga yang dijadikan benda-benda pusaka oleh tua-tua adat dari suku-suku sekitar Basemah, antara lain di daerah Enim. Intinya memperingatkan warga agar berhati-hati dan selalu waspada terhadap kedatangan para perampok dari Basemah yang sering menjarah harta benda serta menculik wanita dan anak-anak mereka. Bahkan selain itu Marco Polo [abad12], membuat catatan khusus tentang Basemah yang berbunyi..’Basma, where the people’s like a beast withuot law or religion….’ [basemah, penduduknya bagaikan binatang buas, tanpa aturan atau agama ]
Puyang Awak yang memperhatikan kehidupan suku Basemah yang liar, zalim tanpa hukum dan agama tersebut, justru berpendapat bahwa di tanah basemah inilah tempat yang tepat untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan ALLAH SWT kepada nabi Muhammad SAW, untuk meng-agama-kan masyarakat yang belum beragama.
Akan tetapi perlu kita fahami bahwa metode yang dipergunakan oleh Puyang Awak dalam menyebarkan ajaran Islam yang mendasar tersebut, tidak mempergunakan bahasa Arab, melainkan beliau rumuskan kedalam bahasa Pasemah yang cukup dikenal sampai saat ini yaitu ’falsafah GANTI nga TUNGGUAN [Akhlakul Karimah].
C. Hubungan Darah Syaikh Baharudin dengan Sunan Gunung Jati
Mengutip dari buku ”Kisah Walisongo”, Karya Baidhowi Syamsuri, terbitan Apollo Surabaya didapatkan data sebagai berikut.
Adalah dua orang putra Prabu Siliwangi bernama Pangeran Walang Sungsang dan Putri Rara Santang belajar Dinul Islam kepada Syaikh Idlofo Mahdi atau Syaikh Dzathul Kahfi-seorang Ulama dari Baghdad yang menetap di Cirebon dan mendirikan Perguruan Islam. Karena kedua anak Raja Siliwangi tersebut tidak mendapat izin dari sang ayah, maka mereka melarikan diri ke Gunung Jati untuk belajar tentang Islam. Setelah cukup lama menuntut ilmu, keduanya diperintahkan sang syaikh untuk membuka hutan di selatan Gunung Jati yang kemudian dijadikan pedukuhan yang akhirnya menjadi ramai. Tempat ini kemudian dinamakan ”Tegal Alang-Alang” dan Pangeran Walang Sungsang diberi gelar ”Pangeran Cakra Buana” serta diangkat sebagai pimpinannya.
Syaikh Kahfi atau Datuk Kahfi memerintahkan kepada kedua muridnya tersebut untuk menunaikan haji ke Mekkah dilanjutkan dengan belajar Islam kepada Syaikh Bayanillah. Akhirnya Rara Santang menikah dengan seorang penguasa Mesir keturunan Bani Hasyim yang bernama Sultan Syarif Abdullah-dikenal juga dengan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda. Rara Santang namanya diganti dengan Syarifah Mudaim. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putra, Syarif Hidayatullah dan adiknya Syarif Nurullah.
Setelah Sultan Syarif Abdullah wafat, kedudukannya digantikan oleh putra keduanya Syarif Nurullah, karena putra pertamanya Syarif Hidayatullah tidak suka naik takhta dan lebih memilih pulang ke tanah Jawa beserta ibunya untuk mendakwahkan Islam. Syarif Hidayatullah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati yang bersama-sama Senopati Demak Bintoro, yaitu Fatahillah yang melakukan penyerangan dan pengusiran Bangsa Portugis dari Sunda Kelapa.
Sedangkan Pangeran Cakra Buana setelah tinggal tiga tahun di Mesir kembali ke Jawa dan mendirikan negeri baru yaitu Caruban Larang. Prabu Siliwangi sebagai penguasa Jawa Barat telah merestui tampuk pemerintahan putranya ini dan memerinya gelar ”Sri Manggana”.
Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Gunung Jati telah sampai ke negeri Cina, dimana terdapat undang-undang yang melarang rakyatnya memeluk Islam. Disana beliau membuka praktek sistem pengobatan. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudhu dan sholat. Orang cina kemudian mengenalnya sebagai sinshe dari jawa yang sakti dan berilmu tinggi. Akhirnya banyak diantara penduduknya memeluk Islam, termasuk seorang menteri Cina bernama Pai Lian Bang. Bahkan Kaisar Cina meminta Sunan Gunung Jati untuk menikahi putrinya yang bernama Ong Tien. Sunan Gunung Jati tidak mau mengecewakan sang kaisar, maka pernikahan tersebut dilangsungkan, kemudian ia pulang ke Jawa beserta Ong Tien.
Keberangkatannya ke Jawa dikawal dua Kapal Kerajaan yang dikepalai murid Sunan Gunung Jati, Pai Lian Bang. Kapal yang ditumpangi oleh Sunan Gung Jati berangat lebih dahulu dan singgah di Sriwijaya karena tersiar kabar bahwa adipati Sriwijaya yang berasal dari Majapahit bernama Ario Damar atau Ario Abdillah (nama Islamnya) telah meninggal dunia. Makam beliau dapat kita lihat sampai sekarang di Jalan Ariodillah Palembang. Sedangkan Ario Abdillah ini adalah anak tiri dari Fatahillah.
Karena kedua putra dari Ario Abdillah telah menetap di Jawa, maka Sunan Gunung Jati mengharapkan agar rakyat Sriwijaya berkenan mengangkat Pai Lian Bang sebagai adipati supaya tidak ada kekosongan kepemimpinan. Pai Lian Bang tidak menolak atas pengangkatannya, ia berkata : ”…seandainya bukan Sunan Gunung Jati sebagai guruku yang menyuruhku, maka aku tidak akan mau diangkat menjadi adipati…”.
Dengan bekal ilmu selama menjadi menteri di Cina, Pai Lian Bang berhasil membangun Sriwijaya. Pesantren dan madrasah benar-benar dikembangkannya dan beliau menjadi Guru Besar dlam Ilmu Ketatanegaraan. Murid-muridnya cukup banyak yang datang dari Pulau Jawa dan Sumatera termasuklah seorang cucu Sunan Gunung Jati dari Putrinya Panembahan Ratu yang dinikahi oleh Danuresia (Empu Eyang Dade Abang) yang bernama Syaikh Nurqodim al Baharudin (di sumsel dikenal dengan Puyang Awak). Pada akhirnya setelah Pai Lian Bang wafat, Sriwijaya diganti nama menjadi PALEMBANG yang diambil dari nama PAI LIAN BANG.
D. Latar Belakang Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu Tempo Dulu
Setiap ulama yang shohih dapat dikenali langkah-langkahnya yang senatiasa menyusuaikan dengan panduan Alqur-an dan sunnah Rosul. Demikian pula analisis kami terhadap gerakan yang dibangun Syaikh Nurqodim al-Baharudin. Dengan segala keterbatasannya selaku manusia biasa dan dengan kesemangatannya selaku hamba Allah yang diberi amanah ke’ulamaan beliau telah berupaya membangun tata kehidupan masyarakat madani yang di contohkan Rosulullah Muhammad SAW. Inilah latar belakang pokok mudzakarah tersebut yaitu ingin mewujudkan tata kehidupan masyarakat yang diatur dengan Syariat Dinullah dengan panduan dari Rosulnya. Beliau tidak bermaksud membangun kekuasan dengan sistem kerajaan. Namun masyarakat madani yang tunduk pada kepemimpinan Allah dan Rosul dengan ’Ulama sebagai Ulil Amrinya.
Kemudian dengan melihat situasi dan kondisi perkembangan Islam di Eropa, Afrika, Asia, hingga wilayah Nusantara memberikan peluang yang besar kepada para ’ulama untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia, sehingga memberi corak tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Terciptanya kestabilitasan dan perbaikan sistem kehidupan yang meliputi aspek sosial, budaya, ekonomi, pemerintahan dan keamanan, militer dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu effect positif penyebaran melalui Dakwah dan Jihad.
Di rumpun melayu, khususnya setelah terjadi kekosongan kekuasaan di wilayah Sumatera Selatan akibat runtuhnya kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit, dan terjadinya peralihan kekuasaan dari kerajaan Demak ke Pajang dan Mataram, sementara di wilayah Besemah (Pagaralam) masyarakat mengalami disintegrasi nilai-nilai kebudayaan yang mengakibatkan terciptanya kekacauan dalam sistem kehidupan sosial kemasyarakatan sehingga mereka kehilangan norma dan aturan yang mengatur tatanan kehidupan sosial. Hal ini yang menjadi faktor kedua dan mengilhami proses penyebaran Islam di wilayah Besemah dan Semendo oleh para ’ulama melalui proses mudzakarah.
Demikianlah dua latar pokok munculnya pertemuan ulama pada masa itu, yaitu ittiba kepada panduan Allah dan Rosul dengan gambaran dalilnya antara lain Surah al Anfal ayat 72, mengenai perintah iman, hijrah dan jihad. Selanjutnya kedua, yaitu kondisi dunia dan ummat yang menghendaki para ’ulama agar bersepakat mengangkat Islam.
E. Lokasi dan Hasil Keputusan Mudzakarah Ulama Tempo Dulu
Keberadaan dan kegiatan dakwah yang dilakukan beliau lama-kelamaan mulai tersebar. Bahwa di daerah Batang Hari Sembilan telah ada seorang aulia yang bernama Syaikh Nur Qodim Al Baharudin. Banyaklah penghulu agama / pemuka agama dari berbagai daerah berdatangan memenuhi ajakan Puyang Nur Qodim untuk bermukim di Talang Tumutan Tujuh akhirnya diresmikanlah oleh Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang menjadi ”dusun Paradipe” (para penghulu agama) tahun1650 M / 1072 H sekarang dinamakan dusun Tue. Dari perluasan daerah inilah disebut wilayah jagad Semende Panjang Basemah Libagh.
Kegiatan pembukaan wilayah oleh Syaikh al Baharudin antara lain :
1. Pembukaan dusun dan Wilayah Pertanian Pagaruyung yang dipimpin oleh Puyang Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Tanah Minang Kabau.
2. Pembaharuan dusun serta pemekaran Wilayah Peghapau yang dipimpin oleh Puyang Prikse Alam, dan Puyang Agung Nyawa beserta Puyang Tuan Kuase Raje Ulieh dari negeri Cina yang nama aslinya Ong Gun Tie
3. Pembukaan Dusun dengan pemukiman di dusun Muara Tenang oleh Putra Sunan Bonang dari Jawa. Di Tanjung Iman oleh Puyang Same Wali, di Padang Ratu oleh Puyang Nakanadin, di Tanjung Raye oleh Puyang Regan Bumi dan Tuan Guru Sakti Gumai serta di Tanjung Laut oleh Puyang Tuan Kacik berpusat di Pardipe
4. Pemekaran pembukaan wilayah Marga Semende, Muare Saung dan Marga Pulau Beringin (OKU).
5. Pembukaan wilaya Marga Semende Ulu Nasal dan Marga Semende Pajar Bulan Segirin Bengkulu
6. Pembukaan dusun dan wilayah pertanian di Lampung yakni Marga Semende Waitenang, Marga Semende Wai Seputih, Marga Semende Kasui, Marga Semende Peghung dan Marga Semende Ulak Rengas (Raje Mang Kute) Muchtar Alam..
Pendiri Adat Semende
1. a. Ratu Agung Umpu Eyang Dade Abang (Bapak Nur Qodim – Puyang Awak).
b. Puyang Awak Syaikh Nurqodim Al Baharudin
2. Puyang Mas Penghulu Ulama Panglima Perang dari Gheci Mataram Jawa.
3. Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Minang Kabau (Sumbar).
4. Puyang Sang Ngerti Penghulu Agama dari Tebing Rindu Ati Bangkahulu (Bengkulu).
5. Puyang Perikse Alam dari Lubuk Dendan Mulak Basemah.
6. Puyang Agung Nyawe.
7. Puyang Lurus Sambung Ati dari gunung Puyung Banten Selatan Jabar.
8. Tuan Kuase Raje Ulie Depati Penanggungan.
9. Puyang Lebi Abdul Kahar dari Pulau Panggung.
10. Tuan Mas Pangeran Bonang Muara Tenang.
11. Regan Bumi Nakanadin samewali Tanjung Raya.
12. Tuan Kecil dari Tanjung Laut.
Mengenai hasil keputusan yang di dapat, antara lain adalah munculnya rumusan kesepakatan ulama mengenai tahapan waktu kaderisasi ummat dan masa tegaknya daulah Islam di Rumpun Melayu. Rumusan ini menggunakan bahasa melayu setempat yang tercatat sampai saat ini dan mengandung pesan yang amat kuat, yaitu ”Tujuh Ganti Sembilan Gilir”. Terjemahnya adalah tujuh generasi dan sembilan masa pergiliran Kesultanan”. Satu generasi adalah sekitar 40 tahun sehingga makna tujuh ganti adalah 280 tahun masa pengkaderan atau persiapan ummat ummat Islam untuk bangkit dan mengusir penjajah dari Eropa. Terbukti sekitar 300 tahun kemudian dari tahun 1650 penjajah belanda angkat kaki dari negeri ini. Kemudian Kesultanan Mataram sebagai pusat komunikasi dari kesultanan lain di rumpun melayu diberi batas amanah sampai ke 9 kepemimpinan untuk selanjutnya menegakkan Syariat Islam secara total.
Data mengenai ulama yang hadir antara lain 40 ulama Malaka yang berangkat dari Johor, utusan Mataram Raden Seto dan Raden Khatib dan beberapa utusan lain dari Pagaruyung dan beberapa dari wilayah Rumou Melayu lainnya. Lokasi Mudzakarah Ulama ini adalah di Dusun Perdipe (Para Dipo; para penghulu agama).
Demikianlah sekelumit data yang diperoleh, setelah dilakukan eksplorasi data literatur dan lapangan. Namun demikian segala sumber keterangan apabila bukan bersumber selain alqur-an akan ditemua ikhtilaf (perbedaan) seperti yang dijelaskanNYa dalam Surah Annisa 82. Maka kami pun membuka segala kesempatan untuk melengkapi, mengkoreksi dan meluruskan data sejarah ini.(TJ)
note : Boleh mengutip dan menyebarkan dengan mencantumkan sumbernya. (Red)
Link : www.al-ulama.net